GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: LUKISAN HATI DINDA

June 18, 2017

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-LUKISAN-HATI-DINDA

 

Namanya Vero. Begitu Kak Yos mengenalkannya pada Mama, Ibu tiri Dinda. Hati Dinda terasa sedikit perih. Namun, ternyata itu tak seberapa. Dinda menyadari hatinya semakin sakit saat menyadari Vero yang Kak Yos maksud adalah Vero dari kelas Dinda. Vero yang duduk di samping Dinda. Vero, sahabat Dinda.

 

"Jadi, sudah berapa lama?" tanya Dinda, mencoba mencairkan suasana.

"Baru seminggu," Vero menjawab malu-malu.

Kak Yos hanya senyum-senyum di samping Vero.

"Kok kamu nggak pernah cerita?" tuntut Dinda.

Vero menyentuh tangan Dinda. "Maaf. Tadinya aku tak yakin kalau Kak Yos benar-benar menyukaiku. Tapi ternyata, seminggu lalu ia menyatakan cintanya."

Vero menoleh pada Kak Yos yang dibalas sebuah senyuman. Senyuman itu. Senyum yang selalu ingin Dinda kubur dalam-dalam tapi selalu berhasil timbul kembali.

Tentu saja. Tiap hari Dinda bertemu Kak Yos. Bagaimana mungkin ia tak bisa melihat senyum Kak Yos itu?

"Selamat ya," ucap Dinda lirih. Ada perih yang teramat dalam tergambar melalui matanya.

 

***

 

"Kenalkan, ini Tante Melia. Beliau yang akan jadi Mamamu," ucapan Ayah setahun lalu masih terngiang jelas di kepala Dinda.

Dinda tersenyum pada wanita yang dibawa Ayah ke rumah itu. Dinda senang karena ia akhirnya akan punya Ibu. Bundanya sudah lama meninggal sejak Dinda masih berumur tujuh tahun.

Tapi, senyum itu langsung memudar saat Dinda melihat orang yang berdiri tepat di samping Mama tirinya. Dia Kak Yos. Orang yang sejak SMP selalu memenuhi pikiran, juga buku sketsa Dinda.

Dinda menghampiri lemari bukunya. Ia membuka laci paling bawah perlahan. Di laci itu terdapat banyak buku sketsa. Sudah lama Dinda tidak membukanya. Tepatnya sudah setahun yang lalu saat ia akhirnya memutuskan untuk berhenti melukis.

Dinda meraih salah satu buku itu. Ia membalik beberapa halaman. Air matanya tanpa terasa menetes.

"Kak Yos sudah jadi kakak tiriku. Aku tak boleh melukis ini lagi," Dinda teringat kata-katanya setahun lalu.

Kata-kata itu, yang membuat Dinda mengubur dalam-dalam perasaannya. Juga mimpinya.

 

***

 

Kak Yos sering pulang terlambat akhir-akhir ini. Saat ditanya, jawabannya sering membuat Dinda menyesali pertanyaannya itu. Kak Yos habis mengantar Vero mengikuti audisi menjadi aktris. Itu membuatnya baru pulang ke rumah saat hari sudah petang.

Dinda juga merasakan perubahan besar dalam diri Kak Yos. Kak Yos lebih sering tersenyum. Kak Yos jadi terlihat... lebih bahagia.

Dinda senang melihat senyum Kak Yos. Ia ingin Kak Yos bahagia. Tapi kalau semua itu didapat bukan karena dirinya, Dinda jadi merasa tak rela.

Beberapa kali, Kak Yos terlihat sibuk membantu Vero menyiapkan audisinya. Kak Yos menemani Vero mencari busana yang cocok untuk dikenakan Vero saat audisi. Kak Yos juga yang mengantar Vero ke tempat audisi.

"Ini mimpiku," Vero pernah mengatakannya pada Dinda. "Aku ingin menjadi aktris. Aku ingin menjadi bintang yang bersinar."

Dinda meringis. Membicarakan mimpi membuat hatinya jadi sakit.

"Aku bersyukur Kak Yos mendukungku," lanjut Vero. "Ia bahkan mau membantuku melakukan banyak hal. Aku beruntung memiliki dia. Kamu juga beruntung, Din, bisa punya Kakak sebaik dia."

Dinda menunduk. Senyuman Vero malah membuatnya gelisah.

Jika Vero merasa beruntung, kenapa Dinda tidak bisa begitu? Dinda tak merasa beruntung. Sama sekali tidak.

Dinda sadar selama ini orang-orang menganggapnya sebagai gadis yang baik. Tapi saat ini, rasanya Dinda ingin Vero juga ikut merasakan ketidakberuntungannya.

 

***

 

"Kudengar dari Kak Yos, kamu gagal lagi?" ujar Dinda pada Vero yang terlihat lesu.

Vero hanya mengangguk. Dinda yakin Vero saat ini sangat sedih. Sudah tiga kali ia mengikuti audisi. Dan semuanya gagal.

Dinda tersenyum manis pada Vero. "Tenang. Masih ada kesempatan lain. Jangan putus asa dulu."

Vero menggeleng. "Rasanya aku sudah lelah."

Dinda menghela napas panjang sebelum akhirnya merogoh sesuatu dari tasnya. Ia memberikan selembar kertas itu pada Vero. Rupanya itu iklan sebuah audisi pemeran untuk sebuah film.

"Kamu yakin sudah merasa lelah? Itu ada audisi untuk film lho. Filmnya Pak Tora, sutradara terkenal pula," Dinda memanas-manasi.

Vero menatap Dinda lekat. Wajahnya kini berseri cerah. "Aku ikut, Din. Aku pasti akan ikut casting."

Dinda mengacungkan jempolnya. Ia tersenyum lebar.

 

***

 

Dinda duduk di tepi tempat tidurnya sambil memerhatikan Vero. Hari ini Vero meminta tolong padanya untuk membantunya latihan berakting. Audisi film yang disutradarai Pak Tora hanya tinggal tiga hari lagi.

Permohonan Vero itu sebenarnya cukup membuat Dinda sedih. Apalagi jika ia mengingat mimpinya sendiri. Tapi Vero adalah sahabatnya. Dinda tak bisa menolak permintaannya.

“Bagaimana?” kata-kata Vero membuyarkan lamunan Dinda. “Aktingku masih kaku ya?”

Dinda mengacungkan jempolnya dan tersenyum. “Sudah bagus, kok. Kamu sudah benar-benar terihat seperti aktris sungguhan.”

Pipi Vero merona, tapi ia menggeleng. “Ah, pasti kamu hanya ingin membuatku senang. Iya, kan?”

“Aku berkata jujur, kok. Aku senang setidaknya di sekelilingku ada orang yang tetap gigih meraih mimpinya,” jawab Dinda pelan.

Tapi Vero tetap bisa mendengarnya. “Apa maksudmu? Kamu juga harus meraih mimpimu dong, Din. Jangan mau kalah denganku.”

Dinda diam saja.

“Tapi ngomong-ngomong, selama ini kamu belum pernah menceritakan soal mimpimu padaku. Apa mimpimu, Din?”

Dinda menghela napas. “Aku ke toilet dulu, ya.”

Dinda beranjak keluar kamarnya. Meninggalkan Vero yang mematung keheranan.

Kak Yos sedang tak ada di rumah. Ia sedang latihan dengan bandnya. Kak Yos adalah gitaris yang cukup hebat. Ia sudah tahu kalau Vero sedang di sini bersama Dinda.

Dinda kembali ke kamar setelah mencuci wajahnya. Namun, saat itu ia sadar kalau telah terjadi sesuatu yang salah. Sesuatu yang akan membuat Vero dan dirinya terluka.

"Apa ini, Din?" suara Vero memenuhi seluruh kamar Dinda.

Dinda hanya terpaku. Matanya menatap tajam laci terbawah lemari bukunya yang kini sudah terbuka lebar. Buku-buku sketsanya berhamburan di lantai. Dinda baru ingat kalau lacinya masih sedikit terbuka saat kemarin ia melihat-lihat sketsa lamanya. Pasti Vero melihat salah satu buku sketsa yang menyembul dari balik laci itu dan membukanya.

"Ini Kak Yos, kan?” tanya Vero lagi.

Dinda masih diam.

“Kenapa, Din? Aku… benar-benar tidak mengerti… Kamu dan Kak Yos itu kan adik dan kakak.”

"Itulah sebabnya aku tak pernah memberi tahu mimpiku padamu," Dinda akhirnya bersuara.

Vero mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Aku punya mimpi untuk menggelar pameran lukisan. Dulu, aku melukis banyak hal. Tapi sejak bertemu Kak Yos tiga tahun lalu, aku hanya bisa melukis dirinya. Entah kenapa aku selalu melukis wajahnya."

Vero memandangi Dinda tak percaya. "Tapi.. Kak Yos... Dia… kakakmu, Din."

"Kakak tiri," Dinda berkata pelan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kami tak punya hubungan darah. Aku bertemu dengannya jauh sebelum ia menjadi kakak tiriku."

"Tapi..." Vero tak bisa meneruskan kata-katanya.

“Aku sudah kehilangan mimpi juga semangat hidupku, Ver," Dinda tersenyum menatap Vero, berusaha keras menahan tangisnya. “Kamu sahabatku. Jangan sampai kamu kehilangan mimpimu juga. Berjuanglah.”

Dinda menunduk. Akhirnya air matanya mengalir deras. Ia bisa merasakan tatapan Vero yang mengasihaninya. Jauh dalam hatinya, Dinda membenci dirinya sendiri.

 

***

 

* Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*  

 

 

Written by Hamidah Jauhary
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar