GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: MATAHARI DI TENGAH BADAI

March 19, 2017

 GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-MATAHARI-DI-TENGAH-BADAI

 

Aku terbangun. Di ruangan asing serba putih dengan aroma antiseptik yang sangat menyengat menyerbu indera penciumanku yang baru tersadar.  Dimana aku? Segera aku mengembalikan kesadaranku dan berlari, mencoba menemukan jalan keluar dari ruangan ini. Aku tidak ingin di sini! Aku terus berlari tanpa tahu apa yang ada di depanku, entah lorong-lorong ini akan membawaku kemana. Sudah berpuluh-puluh pintu aku lewati, namun yang ada hanyalah ruangan serba putih yang terus menghimpit dan memicu ketakutanku. Aku hanya berharap segera menemukan cahaya matahari di luar sana.

 

 

Dan tiba-tiba kakiku terhenti, seperti aku telah menginjak rem pada sistem sarafku. Pandanganku tertuju pada seorang perempuan yang terbaring dengan berbagai selang di sekujur tubuhnya, ada selang yang membantunya bernafas, ada selang yang masuk ke dalam mulutnya, dan ada juga selang yang terhubung dengan alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi lambat dengan bunyi nyaring yang memenuhi gendang telingaku. Perempuan itu membuat ketakutanku semakin memuncak, membuat dadaku semakin sesak. Perempuan itu....aku?

Waktu terasa terhenti seketika, sekujur badanku kaku dan mematung, aku masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi padaku...apa yang sebenarnya terjadi?

“Sayang....Claudia...” ibu dan ayah datang menghampiriku yang terbaring dan hanya melewatiku yang mematung seperti angin yang tak terlihat “Bangun sayang...” ibu memelukku sambil terisak, badannya bergetar, terguncang.

Aku keluar dari ruangan menyesakkan ini melalui pintu yang membawa kedua orang tuaku masuk, aku terduduk di deretan bangku di depannya, mencoba mencerna keadaan seperti apa saat ini. Otakku terasa kosong, tenagaku terkuras tanpa sisa, hanya ketakutan dan kebingungan yang masih melekat di tubuhku. Aku berusaha mengingat-ingat, peristiwa apa yang membawaku ke sini, peristiwa apa yang membuatku seperti ini...namun hasilnya hanya kekosongan.

Laki-laki itu mencuri perhatianku, laki-laki yang berjalan gontai dengan kepala tertunduk memandang lantai. Dia berjalan menghampiri ruangan di mana aku terbaring, namun langkahnya terhenti hanya di depan pintu, tangannya terdiam memegang gagang pintu tanpa bergerak sedikitpun, seperti ia sedang mengumpulkan tenaga untuk membukanya. Namun, ia malah berjalan mundur dan terduduk di sampingku. Dia kak Pandu. Dan dia terisak.

Brak!

Ada ingatan yang datang!

Aku terbaring ditengah jalan, dengan darah mengalir dari kepalaku...

Dan semua menjadi hitam. Gelap.

 

***

 

10 jam yang lalu

“Cla...ngapain di sini?” tanya Trias sambil ikut berjongkok disampingku.

“Usst...Ramzy lagi main basket,” kataku sambil terus mengintip di balik tembok, memandang ke arah Ramzy yang bermandikan keringat. Walau berkeringat seperti itu, dia tetap keren dan mempesona, men-drible bola basket dan memasukkannya ke ring. Dia memang salah satu pemain yang dijagokan di kampus kami.

“Ya ampun...” Trias hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang agak gila ini. Sahabatnya yang masih menaruh harapan yang sama besarnya dan pada orang yang sama sejak 3 tahun yang lalu, tak berubah sedikitpun.

“Claudia lagi ngintipin siapa sih????!!!” tiba-tiba ada suara besar menggema yang membuat para pemain basket berhenti bermain, mereka menengok dan memandang kearah sumber suara itu, mereka semua memandang kearahku, termasuk Ramzy!

Suara besar itu sudah bisa kupastikan, pasti itu suara Kak Pandu, senior menyebalkan yang selalu mengangguku.

“Kalo ingin ngeliat basket nggak usah jongkok dan bersembunyi kayak gitu!” katanya sambil menarik tanganku agar aku berdiri dan langsung menyeretku ke tengah lapangan

“Apaan sih Kak?!” kataku geram sambil melepaskan genggamannya, aku memandangnya dengan sinis dan kesal. Ingin rasanya aku tampar wajahnya yang menyebalkan itu, tapi kuurungkan niatku.

“Ramzy!” panggil kak Pandu, dan membuat Ramzy berjalan menghampiri kami.

“Kenapa Kak?” tanya Ramzy sambil mengelap keringat di dahinya dengan telapak tangannya. Ramzy tepat berdiri di depanku, hingga aku dapat mencium aroma parfum yang bercampur keringatnya, hingga aku juga bisa mendengar hela nafas lelahnya. Dan kuakui, saat ini, jantungku berdegup sangat kencang.

“Sekarang kamu ngaku, Claudia...kamu berjongkok di situ mau ngintipin Ramzy kan?” terang Kak Pandu dan membuat wajahku terasa panas, menahan malu dan amarah.

Ini benar-benar tidak bisa kutolerir. Mungkin aku masih bisa menerima  kejailan-kejailan kak Pandu terhadapku, namun untuk sekarang, aku benar-benar marah. Kenapa dia terus menggangguku? Apa dia tidak ada kerjaan lain selain mempermalukanku didepan Ramzy?

Aku memandang ke arah Ramzy yang sedang menunggu jawaban dariku, di depan Ramzy, di depan para pemain basket lainnya, aku hanya bisa tertunduk, terdiam dengan segala rasa malu dan kesal yang bercampur menjadi satu. Dan yang hanya bisa aku lakukan saat ini adalah berlari keluar lapangan. Dan terdengar suara tawa serta sorakan dari para pemain basket.

Brak!

Motor dengan kencang dari arah kanan menghantam badanku, badanku terseret beberapa meter dan kurasakan sakit yang sangat di sekujur tubuhku. Aku terbaring di tengah jalan, dengan lemas dan tanpa tenaga, aku hanya dapat merintih kesakitan. Aku masih dapat melihat beberapa orang menghampiriku, ku melihat Trias dan Ramzy yang berlari menghampiriku. Dan semua menjadi hitam. Gelap.

 

***

 

Kak Pandu bangkit dari duduknya, mengampiri ruanganku lagi, dan kali ini ia melangkah masuk. Sudah tidak ada ibu dan ayahku di sana, hanya ada aku yang terbaring di sana. Kak Pandu duduk di sampingku yang terbaring, menggenggam tanganku dengan sangat erat, hingga aku dapat merasakan kehangatan tangannya yang mengalir ke tanganku yang dingin sedingin es. Kenapa kamu menggenggamku?! Apa yang kamu lakukan, kak?!

“Claudia...” ucapnya lirih sambil menangis “Maafkan aku...”

Semua ini salahmu Kak! Andai kamu tidak mempermalukanku di depan Ramzy, andai kamu tidak menggangguku!

“Andai aku bisa mengembalikan waktu...” ucapnya sambil terbata-bata “Aku akan tetap mempermalukanmu di depan Ramzy” dan tangisnya kali ini semakin menjadi-jadi, badannya ikut bergetar, bulir-bulir air mata mengalir dipipinya dengan deras.

Apa?! Sudah gila kamu Kak?! Kamu tidak menyesal sedikitpun?!

“Ramzy tidak pantas untukmu, Claudia..”

Bukan kamu kak yang menilai siapa yang pantas untukku!

Kepalaku terasa pusing seketika, ruangan ini seperti berputar, mengaduk-aduk isi otakku. Rekaman-rekaman singkat tentang kecelakaan itu terus menyusup masuk ke dalam pikiranku yang kosong. Motor yang menghantam tubuhku, aku yang lemas dan menahan sakit yang teramat, aku yang sekarat ditengah jalan, aku yang melihat Trias dan Ramzy yang menghampiriku...

Tidak!

Bukan Trias dan Ramzy yang menghampiriku. Tetapi...Trias dan kak Pandu yang datang tergopoh-gopoh menghampiriku yang sedang sekarat.

“Claudia!”

Aku bisa merasakan darah mengalir dari kepalaku, jantungku sudah hampir berhenti. Dan di saat seperti itu, di dalam pandanganku yang mulai memudar, aku melihat punggung Ramzy berjalan membelakangiku.

Ramzy...laki-laki yang selama ini selalu bersemayam di pikiranku ternyata adalah laki-laki yang tak pernah memandang ke arahku sedikitpun, dia adalah laki-laki yang memalingkan pandangannya di saat hidupku diujung kematian.

“Claudia! Claudia!” kak Pandu menggoyang-goyangkan badanku, memaksaku untuk tersadar.

Aku seperti berada ditengah badai, seluruh harapan yang sudah kubangun tinggi runtuh seketika diterpa badai. Hidupku sudah gelap. Hancur. Dadaku semakin sesak...pusing dikepalaku semakin menjadi-jadi...bunyi tit-tit-tit dari mesin pendeteksi detak jantung berbunyi sangat nyaring membuatku semakin sesak.

 

***

 

Aku tersadar. Aku tidak lagi memandang diriku yang terbaring. Aku bisa merasakan genggaman tangan kak Pandu yang masih menggenggamku erat. Ia tertidur, dengan kepala disandarkan di sampingku.

Badai mungkin belum berlalu, namun aku sudah dapat merasakan hangatnya matahari yang akan mengakhiri badai kali ini.

 

 ***

 

* Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*  

 

 

Written by Maudy Matovanni
Photo Source:
pinterest.com
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar