GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: TAK INGIN MATI (PART 1)

January 07, 2017

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-TAK-INGIN-MATI-(PART 1)

 

AXEL INGIN MATI.

Dia yakin akan hal itu. Seperti keyakinan orang-orang akan Tuhan yang hanya satu, ataupun bumi yang selalu berputar mengelilingi matahari. Ia tak pernah merasa seyakin ini mengenai apapun dalam hidupnya.  Keinginannya untuk merangkul kematian adalah hal pertama yang ia pikirkan saat terbangun dan hal terakhir yang ada di pikirannya sebelum tertidur. Setiap hari, ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga, tapi suara dari dalam kepalanya selalu berkata, jangan hari ini.

 

Jangan hari ini.

Suara itu yang selalu berhasil menghentikannya saat ia berjarak sepersekian detik dari menendang kursi yang ia pijak dan menggantung tak bernyawa. Suara itu pula yang menghentikannya sebelum ia berhasil menyayat nadinya terlalu dalam dan juga yang membuatnya buru-buru memuntahkan segenggam pil yang baru saja ia telan.

Namun, saat ia terbangun pada hari Selasa, 13 Juli 2021, keinginannya untuk meraih pistol tanpa lisensi yang ia punya dan menembakkan benda itu ke kepalanya datang untuk kesekian kalinya.

                Dan suara itu tidak terdengar.

                “Ean! Kau masih berutang satu bungkus rokok padaku!” ujar Axel seraya merangkul pundak sahabatnya itu. Keduanya sedang berjalan pulang sehabis bertahan selama delapan jam dalam kebosanan.

                “Hah? Bukannya aku tidak perlu menggantinya?”

                “Enak saja. Aku memang memperpanjang masa pengembaliannya, tapi kau tetap harus menggantinya.”

                Ean memegang dagunya, pura-pura berpikir. “Baiklah, kalau begitu ayo ke rumahku. Orang tuaku sedang ke luar kota.”

                Satu sudut bibir Axel terangkat, wajahnya cerah karena akhirnya, rokok yang dia idam-idamkan selama seminggu penuh bisa ada di tangannya.

 

***

 

Axel melihat layar telepon genggamnya, tak ada pesan.

Tidak mengejutkan.

Sudah seminggu ia bolos sekolah, tapi tak seorang pun datang ke rumahnya. Ia memang pura-pura sakit sehingga bisa tak masuk, tapi setidaknya, bukankah jika sudah selama ini ia absen, harusnya ada teman sekelasnya yang membawakan catatan sekolah atau pekerjaan rumah atau bahkan hanya sekadar datang untuk menanyakan keadaannya?

Mungkin memang itu yang biasanya dilakukan pada remaja normal yang punya banyak teman. Bukan kepada remaja tujuh belas tahun yang tak kurang dari sepuluh hari yang lalu menyebabkan kematian sahabat karib dan beberapa orang tak berdosa lainnya.

Bukan dia.

Axel bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia tak bergerak untuk menyalakan lampu. Biarkan kegelapan menyelimutinya, tak sudi ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya yang pucat, dengan bibir kering, pipi yang tirus, dan mata yang kurang tidur.

Wajah seorang pembunuh.

Ia berusaha melupakan tatapan yang teman-temannya berikan saat ia berjalan melewati koridor sekolah tanpa Ean di sampingnya. Tatapan penuh hina dan tuduhan yang terasa menusuk saat ia berusaha mengabaikannya.

Pergi dari sekolah ini, dasar pembunuh!

Lebih baik kau saja yang mati!

Masih berani ke sekolah? Bagaimana dengan Ean? Memangnya dia masih bisa sekolah?

Selama dua hari ia bertahan di antara celaan dan tatapan teman-temannya. Semakin lama, ia makin merasa bahwa perkataan mereka ada benarnya. Kenapa aku yang masih hidup? Pertanyaan itu terus menyerang pikirannya. Ean punya lebih banyak teman. Ean selalu baik padanya. Ean merupakan kesayangan guru. Ean juga telah mendapatkan beasiswa di universitas terkenal di negaranya. Masa depannya begitu cerah, begitu jelas.

Dan Axel merenggut itu semua darinya.

Ia tak tahan lagi, selama berhari-hari sudah dia menahan keinginannya untuk pergi. Selama berhari-hari sudah ada suara yang mencegahnya melaksanakan keinginannya. Suara itu berkata jangan hari ini, bukan jangan. Seakan-akan suara itu bukannya mencegah Axel menghabisi hidupnya, melainkan hanya menundanya.

Tapi, suara itu tidak datang hari ini saat Axel memiliki pikiran untuk menembak kepalanya. Memang, biasanya suara itu datang saat Axel berada antara hidup dan mati, bukan saat memiliki pikiran untuk mati. Ia pun berniat untuk menguji apakah suara itu akan datang atau tidak kali ini.

 

***

 

“Ya Tuhan... aku hampir lupa bagaimana nikmatnya rokok.” Ujar Axel sembari mengembuskan napasnya yang berupa asap nikotin.

Ean tertawa pelan, ia juga tampak sedang menikmati sebatang rokok sambil menyesap anggur yang dia dapatkan dari lemari penyimpanan ayahnya. “Dasar berlebihan, baru juga seminggu kalian berpisah.”

“Kau tahu sendiri, kan, kalau aku ini pecandu rokok? Seminggu itu rasanya seperti setahun di Mars.”

“Berlebihan.”

“Hey, bagaimana kabar pacar barumu itu? Siapa namanya? Josie?”

Ean tampak terkejut akan pengalihan topik yang terlalu tiba-tiba, tapi sedetik kemudian matanya melembut saat mendengar nama kekasihnya itu. Ia tak lagi melihat ke arah Axel, matanya tampak menerawang dan bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sering Axel lihat di televisi–senyum orang yang jatuh cinta.

“Halo? Ada orang di rumah?” Axel menjentikkan jarinya di wajah Ean, membuyarkan lamunannya. “Kau tak perlu senyam-senyum seperti itu di hadapanku, aku bisa muntah.”

Ean tertawa, matanya masih memiliki pijar yang membuatnya tampak lebih muda. “Maaf... maaf… aku hanya...” Senyum itu lagi. “Josie–Oh, Tuhan–Dia sangat…“ Di wajahnya kini terdapat rona merah yang bahkan tak ia coba untuk tutupi. Ia menghela napas, lalu mengarahkan matanya ke arah Axel yang berusaha tak tertawa. “Aku tahu, oke? Aku terdengar seperti orang bodoh sekarang.”

“Sangat.”

“Tapi, aku serius, Josie benar-benar luar biasa. Aku tak tahu kenapa ia bisa suka padaku.”

“Hmm…” Axel mengangkat tangannya, menghitung hal-hal yang menjadi alasan Josie bisa jatuh hati pada Ean. “Pertama, kau jenius, kau tahu itu? Maksudku, demi Tuhan… Kau dapat beasiswa di Yale! Aku bahkan tak yakin akan naik kelas. Kedua, kau baik ke semua orang, kau bahkan mau berteman denganku yang sangat menyedihkan ini.” Axel memutar bola matanya, “Dan lagi Ean, menurut para perempuan kau ini tidak jelek! Cih, geli juga aku bilang begitu.”

Sudut bibir Ean terangkat sebelah, terhibur akan usaha yang sahabatnya lakukan. “Terima kasih akan usahamu itu, Axel. Tapi, aku merasa tak ada apa-apanya dibanding Josie. Dia sempurna. Aku tak pernah melihat senyuman secerah miliknya. Aku bahkan sempat berpikir bahwa senyumannya bisa menjadi tenaga cadangan kota ini.”

Axel berkedip. Sekali. Dua kali. “Wow, kau benar-benar cinta padanya.”

“Jelas.”

 

***

 

Cahaya bulan yang masuk melewati celah jendela menuntun Axel berjalan menuju lemari bajunya. Dia tidak berniat menyalakan lampu, biarkan kegelapan yang menemaninya. Tanpa ragu, Axel membuka pintu lemari dan membuka laci di bagian bawah dan merogoh ke dalam tumpukan pakaian dalam yang menjadi kamuflase untuk menutupi benda yang tersembunyi di bawahnya.

Glock 42.

Pistol tanpa lisensi yang berhasil ia dapatkan dengan bantuan beberapa orang yang ia kenal di pinggiran kota. Awalnya, ia berniat memiliki pistol untuk pertahanan diri. Hampir semua rumah di kota tempat tinggalnya setidaknya memiliki satu buah senjata api. Kenapa dia tidak?

Axel tertawa miris, ia tak menduga pistol yang ia beli dengan tujuan mulia malah akan digunakan–pertama dan terakhir kalinya–untuk hal seperti ini.

Tanpa pikir panjang lagi, ia memeriksa peluru yang ada di dalam Glock 42-nya–enam butir–lalu melepaskan kunci pengamannya. Perlahan tapi pasti, ia mengarahkan mulut senjata itu ke pelipis kanannya. Ia berdebat dengan dirinya sendiri, haruskah ia menutup mata? Atau lebih baik membiarkan bulan menjadi hal terakhir yang ia lihat?

Belum sempat ia memutuskan, matanya melihat sesuatu di permukaan bulan.

Mula-mula hanya berupa titik. Lalu, titik itu membesar dan mendekat ke arahnya. Sesuatu itu memliki sayap yang sangat lebar hingga menutupi permukaan bulan. Awalnya, Axel berpikir bahwa itu hanyalah burung gagak, lagipula, bukankah pada malam hari memang banyak burung gagak?

Tapi, ia tahu betul bahwa burung gagak tidak akan bisa menghalangi pandangannya ke bulan melalui jendela kamarnya, bahkan apabila burung itu sedang hinggap di jendelanya sekalipun.

Burung–makhluk bersayap–itu sedang berdiri di ambang jendelanya. Tangannya–yang tampak seperti milik manusia pada umumnya–mencengkeram kedua sisi jendela sedangkan bagian atas tubuhnya mengarah ke arah Axel yang secara tak sadar telah menjatuhkan Glock 42-nya ketika makhluk itu hinggap di jendelanya. Sayap makhluk itu tak bisa masuk melalui jendela–terlalu besar. Kedua bentangan bulu berwarna hitam legam itu menutupi pandangan Axel sepenuhnya dari melihat keramaian di luar ataupun bulan di langit.

Axel bisa merasakan detak jantungnya berdentum di telinganya. Napasnya memburu. Tangannya bergerak untuk memegang sesuatu, lalu ia tersadar bahwa pistolnya tak lagi di tangannya. Hembusan angin malam yang sedari tadi bisa ia rasakan masuk dari jendelanya tak lagi datang karena sayap makhluk itu menghalangi jendela.

Makhluk itu melangkah maju. Axel mengambil satu langkah mundur. Matanya terpaku pada wajah makhluk itu–atau setidaknya pada tempat yang ia anggap wajah. Keringat dingin mengalir deras di pelipis, tengkuk, dan pahanya. Ia bisa merasakan aura tidak bersahabat dari makhluk itu. Tanpa sadar, punggungnya telah menyentuh dinding kamar–sontak Axel merapatkan dirinya ke dinding. Lututnya lemas, tangannya gemetar, mencoba bergerak hanya akan berakhir dengan ia jatuh tersungkur ke lantai.

Bulan yang sedari tadi hanya menjadi saksi bisu akan teror yang dirasakan Axel pun akhirnya berhasil menunjukkan rupa makhluk itu. Sayap hitam legam yang tadi terbentang kini telah menghilang di balik pundak sebuah tubuh berbalut kain hitam yang menyentuh lantai. Kedua lengan yang tadi sempat mencengkeram jendela, kini menggantung di kedua sisi tubuhnya. Mata Axel bergerak naik menuju kepala makhluk itu. Rambut putih panjang bergelombang menutupi sebagian besar wajah makhluk itu.

Perempuan?

Makhluk–perempuan–itu memiringkan kepalanya, menyebabkan beberapa helai rambut jatuh ke sisi wajahnya. Axel mendapati dirinya sedang menatap ke sebuah mata berwarna biru. Dalam keremangan kamarnya, mata itu biru seperti laut saat malam tiba. Tapi, ia yakin jika ia memiliki cukup cahaya, mata itu akan menyala terang bak langit tanpa awan yang dulu menjadi favoritnya.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu tanpa seorang pun dari mereka yang angkat bicara. Setelah menyadari bahwa makhluk yang sempat membuatnya hampir jatuh pingsan itu benar-benar tampak seperti manusia pada umumnya–jika rambut putih dan sayap hitamnya diabaikan–Axel merasakan sedikit keberanian kembali menyusup ke dalam jiwanya.

“Si–Siapa–Siapa kau?” Suaranya tampak asing di telinganya sendiri. Serak dan penuh dengan rasa takut yang bercampur dengan sedikit keberanian.

Saat makhluk itu bicara, Axel merasakan darahnya terhenti. Suaranya begitu indah dan menyakitkan sekaligus. Bagaikan suara dari legenda putri duyung di laut lepas yang konon membuat para pelaut tak menyadari adanya karang besar di hadapannya. Axel merasa terhipnotis, tak bisa berkutik, lututnya yang sempat kembali normal kini melemas lagi. Suara makhluk itu sangat asing, tapi entah mengapa sangat familiar. Dan Axel mendapati dirinya ingin mendengar makhluk itu bicara padanya tanpa henti.

“Jangan hari ini.”

 

***

 

Axel lari dengan terburu-buru dari rumah sahabatnya.

Beberapa menit yang lalu, Axel sedang dengan nikmatnya mengisap puntung rokok terakhirnya sebelum pada akhirnya Ean memanggilnya untuk mengambilkan sebuah buku yang ada di rak tertinggi di perpustakaannya. Tubuh Axel memang jauh lebih tinggi dari Ean, sehingga mereka sering disebut sebagai kakak beradik, dan hal seperti ini pun sudah sering terjadi.

Ean memiliki peraturan di rumahnya tentang merokok di dalam ruangan penuh buku, jadi segera setelah Ean memanggilnya, Axel menoleh ke kanan dan mendapati dirinya sedang berdiri di samping jendela. Tanpa pikir panjang, ia menaruh puntung rokoknya yang masih baru itu di kusen jendela. Akan kuambil setelah keluar dari perpustakaan, pikirnya singkat.

Namun, belum sempat Axel mengambilkan buku yang Ean pinta, suara mesin mobil terdengar memasuki pekarangan rumah Ean. Sontak, Axel langsung lari terbirit-birit ke pintu belakang yang terdapat di dapur. Kini, ia tengah berlari menuju rumahnya yang berjarak lima belas menit dengan berjalan kaki dari rumah Ean. Delapan menit dengan berlari.

Axel berlari bukannya tanpa alasan. Orangtua Ean secara terang-terangan melarang Axel bergaul dengan Ean. Kau berpengaruh buruk pada anakku, kata mereka. Bahkan dalam beberapa tatap muka, mereka dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada lelaki berumur tujuh belas tahun itu. Jadi, wajar saja Axel kabur tanpa ba-bi-bu saat mendengar suara mesin mobil yang sudah dia hapal di luar kepala. Berlari di tengah kegelapan malam yang masih muda dan sejuk.

Dan melupakan rokok yang ia letakkan di jendela.

 

***

 

Axel merasa hidupnya berubah dari menyedihkan menjadi benar-benar tidak masuk akal.

Selama berbaring di ranjangnya yang kini telah terkena sinar matahari, bayangan tentang kejadian semalam berkelebat di pikirannya. Mulai dari kemunculan makhluk gaib itu hingga tersungkurnya ia di lantai sekejap setelah makhluk itu kembali terbang membelah langit malam.

Jangan hari ini.

Tiga kata itu terus terngiang di kepalanya. Axel tak habis pikir, suara yang selama ini ia dengar berasal dari makhluk itu? Pantas saja ia merasa familiar saat mendengarnya secara langsung. Tapi, Axel tak bisa melupakan sensasi yang ia rasakan saat makhluk itu bersuara.

Saat lututnya melemas.

Saat jantungnya terhenti.

Dan semua yang ada di dunia tak terasa penting ataupun berharga asalkan dia bisa mendengar suara itu. Axel berani bersumpah, jika makhluk itu menyuruhnya untuk lompat dari tebing dan mati dalam sekejap, ia pasti akan menurutinya.

Hanya saja, makhluk itu tidak menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri.

Melainkan mencegahnya.

Berulang kali.

Dan ia tak bisa melakukan apapun selain menurutinya.

 

***

 

Mata Axel masih berusaha menyesuaikan diri saat mentari menyapanya melalui sela-sela tirai jendela. Tangan kanannya terangkat untuk menghalau sinar yang menyilaukan tersebut. Terduduk di ranjang, tangan kirinya bergerak meraih telepon genggam yang ia letakkan di atas nakasnya semalam. Ibu jarinya bergerak menggeser kunci layar di telepon genggamnya tersebut.

Axel mengangkat tubuhnya dan berjalan setengah tersadar menuju kamar mandi. Matanya masih terpaku ke layar telepon genggamnya, sesekali berkedip dan menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan kantuk yang masih menguasainya.

Setelah matanya selesai beradaptasi dan Axel mendapati dirinya berada di depan cermin kamar mandi, layar telepon genggamnya sedang menunjukkan jadwal pertandingan sepak bola nanti malam.

Dalam satu gerakan cepat, jemarinya mengetik pesan untuk Ean.

Nanti malam. Saluran nomor lima. Di rumahku.

Kirim.

Axel meletakkan telepon genggamnya di sisi wastafel dan mulai melakukan ritual pagi hariya. Cuci muka. Sikat gigi. Sisir rambut. Lima menit telah berlalu. Axel kembali ke kamar, memilih kaus yang masih layak pakai di antara tumpukan pakaian yang baru ia pakai sekali.

Setelah mengenakan kaus ‘baru’ dan jins biru tua miliknya yang sudah memudar, Axel meraih ranselnya yang tergeletak di lantai dan berjalan keluar kamar. Sesampainya di dapur, matanya menangkap sesuatu berwarna putih di sudut matanya. Sebuah kertas. Tanda bahwa ibunya pulang setelah ia tidur dan berangkat kerja sebelum ia bangun.

Lagi.

Kali ini, yang tertulis di sana adalah:

Panaskan sup jagung yang ada di kulkas. Jangan lupa kunci pintu.

Tanpa berpikir dua kali, Axel langsung menjalankan perintah ibunya yang pertama. Menyandarkan diri di sofa, ia meraih remot televisi dan menyalakan benda datar di dindingnya itu. Seketika, dia sedang menyaksikan sebuah berita terbaru tentang kebakaran yang baru terjadi semalam.

“Terdapat lima korban jiwa dalam insiden kebakaran kali ini. Menurut kesaksian Olivepembantu rumah tangga yang berhasil selamat karena sedang pergi ke supermarkettiga dari korban adalah pemilik rumah dan dua yang lainnya adalah pembantu rumah tangga yang juga bekerja di rumah tersebut.”

Axel terpaku di tempat duduknya. Ia mengenali wajah wanita paruh baya yang sedang memberi kesaksian di layar televisinya sambil bercucuran air mata. Wanita itu sering memasak untuknya saat ia sedang berada di rumah Ean.

Ean.

Axel bangkit dari sofa dan mengeluarkan telepon genggamnya. Kakinya terasa lemas. Dengan jari gemetaran, ia menekan nomor panggilan cepat yang akan menghubungkannya dengan telepon genggam milik Ean.

Detik-detik saat ia menunggu nada sambung untuk segera terdengar merupakan detik terpanjang dalam hidupnya.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubu–

Telepon genggam yang malang itu berakhir dalam bentuk yang menyedihkan di seberang ruangan. Remaja yang baru saja melemparnya sedang meringkuk di tengah ruangan sambil menghantamkan kepalan tangannya ke lantai, seakan-akan dengan begitu air mata yang sedang mendesak keluar tidak akan jatuh.

 

***

 

Hari pertamanya di sekolah setelah seminggu membolos berlalu tanpa klimaks. Axel bagai bersatu dengan dinding, orang-orang bahkan tidak melirik ke arahnya sama sekali. Baguslah, batin Axel. Memang lebih baik seperti ini.

Begitu bel pulang berbunyi, dia segera keluar dari kelas dan mencari sepedanya ketika sudah sampai halaman sekolah. Axel berjalan pelan, dia tahu persis apa yang dia temui begitu tiba di sepedanya. Apa yang mereka siapkan kali ini? Darah binatang? Kotoran anjing? Pertanyaannya pun terjawab.

Kali ini, sepedanya sudah penuh dengan lumpur yang tampak masih segar lengkap dengan cacing yang menggeliat-liat. Tak hanya itu, di tengah-tengah pertunjukkan dansa cacing yang sedang terjadi di sepedanya, Axel bisa melihat secarik kertas yang terselip roda bagian depan sepedanya.

Ia meraih kertas itu, membukanya, dan tulisan tangan terjelek yang pernah ia lihat menatap kembali ke matanya.

MATI SAJA KAU! KEMBALIKAN EAN PADAKU! –J-

Axel meringis. Ia tahu hal seperti apa yang akan ia baca, tapi tetap saja…

Rasanya tetap sakit.

Ia ingin berteriak ke semua orang bahwa apa yang ia lakukan itu tidak disengaja. Jika ada orang yang merasa sedih saat kepergian Ean, Axel adalah orang yang paling tahu akan hal itu. Dia sudah bersahabat dengan Ean sejak umur lima tahun. Orang-orang bahkan sering mengira mereka saudara kandung.

Andai mereka tahu seberapa sering Axel menyalahkan dirinya atas hal yang ia sebabkan itu. Andai mereka tahu seberapa sering otaknya menyuruhnya untuk menyusul Ean–satu-satunya hal adil yang bisa terpikir olehnya. Andai mereka tahu rasa hampa yang ia rasakan setiap kali berjalan melewati lapangan tempat ia dan Ean bermain basket bersama.

Tapi, mereka tak akan pernah tahu.

Axel meremas kertas di tangannya dan melempar kertas itu sejauh yang ia bisa. Tanpa membersihkan lumpur yang membanjiri sepedanya, Axel segera duduk dan mengayuh sepeda lumpurnya dengan sangat cepat hingga jantungnya terasa akan meledak. Ia bisa merasakan cacing yang bergerak di tangannya, tapi ia memilih untuk mengabaikannya.

Sesampainya di halaman rumah, Axel turun dari sepedanya selagi rodanya masih memutar. Alhasil, sepedanya menghantam kotak pos di depan rumahnya. Tapi, ia pura-pura tak mendengar.  Celananya kini telah berbalut zat berwarna coklat yang sekilas terlihat seperti… kau tahulah.

Axel segera membuka pintu rumah dengan kunci yang ia bawa. Sesampainya di dalam, ia langsung bergegas ke kamarnya–menyebabkan jejak berwarna coklat menandai setiap langkah yang ia ambil.

Setelah membanting pintu kamarnya dengan kencang, Axel berjalan ke arah lemari bajunya. Tangannya membuka laci pakaian dalamnya dan merogoh ke bagian paling dalam. Jemarinya menyentuh permukaan dingin dari Glock 42-nya dan Axel tahu bahwa kali ini, ia benar-benar akan melakukannya.

Tak peduli bahkan jika suara itu datang dan berusaha menghentikannya.

Setelah melepaskan kunci pengaman, Axel mengarahkan mulut pistol itu ke pelipisnya dan–

Dalam satu hentakan napas, angin dahsyat menghantam tubuhnya dan menyebabkannya terbanting ke dinding. Pistol di tangannya terlepas dan berakhir di bawah kasur. Jendelanya yang tadi tertutup rapat kini terbuka lebar dengan tirai yang melambai-lambai karena angin yang berasal dari luar.

Axel tak tahu–tak ingin tahu–apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Punggungnya sakit karena terbentur di dinding dan ia tak punya kekuatan untuk bangkit. Axel juga menyadari perubahan suhu yang drastis, ia kini merasa kedinginan. Kamarnya yang sedari tadi terang karena cahaya matahari kini meremang seakan-akan ada yang menghisap sinar sang surya. Rasa takut menyusup ke hatinya, ia tidak ingin melakukan apapun selain meringkuk di bawah selimut dan berharap semua hal aneh itu berhenti. Tapi, tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak.

Mata Axel bergerak dari jendela kamarnya ke pojok ruangan yang telah berubah menjadi gelap. Matanya menangkap sosok familiar berambut putih yang sedang berdiri di sana. Sayap hitam besar miliknya terbentang di kedua sisi makhluk itu. Mata birunya seakan bisa membaca semua aib dan rahasia Axel dalam satu kedipan.

“Jangan hari ini.”

Axel sudah muak. Memangnya makhluk ini pikir dia siapa? Seenaknya mengatur hidup dan mati Axel. Mungkin sebelumnya suara itu berhasil membuatnya bertekuk lutut dan terhipnotis, tapi tidak kali ini. Masa itu sudah berlalu.

“Memangnya kau siapa, hah?! Ini urusanku! Kau mau mencegahku lagi?!” Axel mulai bangkit dan bergerak untuk mengambil pistolnya. Begitu pistol itu berada di tangannya, tangan makhluk itu membuat gerakan dan pistol Axel pindah ke tangan pucatnya.

“Hidup dan matimu adalah urusanku. Lebih dari yang kau tahu.” Makhluk itu mengangkat dagunya, menyebabkan rambutnya terkulai ke kedua sisi wajahnya.

Axel ternganga.

Dia sedang bertatapan dengan seorang gadis tercantik yang pernah ia lihat dalam hidupnya. Tidak. Menyatakan bahwa gadis itu cantik adalah sebuah kesalahan. Ia tidak cantik.  Mata birunya tampak menyala di antara kegelapan yang menyelimutinya. Rambut putihnya tampak keperakan dan sangat lembut–membuat jari Axel berkedut seakan gatal ingin menyentuhnya. Wajahnya sangat pucat, seakan tak pernah melihat sedikit pun cahaya matahari. Axel menyadari bahwa gadis itu seperti lukisan. Begitu indah hingga tak mungkin menjadi nyata.

 “Aku akan selalu datang untuk mencegahmu mengakhiri hidupmu. Ingat hal itu setiap kali kau hendak berbuat hal bodoh.”

Saat pikiran Axel telah berhenti menjelajah, gadis itu telah menghilang bersama dengan kembalinya cahaya yang menerangi kamarnya.

 

***

 

Bersambung ke hari Minggu, 8 Januari 2016, Pukul 16.00

 

 

* Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium sebesar Rp500 ribu (dipotong pajak). Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*  

 

 

Written by Aldilla Yasmin Inas
Photo Source:
pinterest
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar