GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: TAK INGIN MATI (PART 2)

January 08, 2017

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-TAK-INGIN-MATI-(PART 2)

 

Axel mendapati bahwa dirinya penasaran. Siapa sebenarnya makhluk itu? Apa sebenarnya makhluk itu? Kenapa dia selalu mencegahnya untuk mati? Selain penasaran, Axel juga menyadari bahwa dikunjungi makhluk seperti itu sebenarnya tak terlalu buruk. Bahkan, jika ia mengabaikan cara datang makhluk itu yang tak pernah bisa dianggap normal, Axel tak keberatan sama sekali memiliki teman untuk bicara.

 

Kalau makhluk itu bisa dianggap teman.

Esoknya, setelah selesai sekolah dan berjalan kaki menuju rumah (Axel bersumpah tak akan naik sepeda lagi), Axel sampai di rumah dengan berbagai pikiran di kepalanya.

Cara apa yang akan dia gunakan kali ini?

Pil?

Tidak, ia sudah kehabisan pil sejak hari ia memuntahkannya dan sejak ibunya membuang semua obat-obatan di rumah.

Pisau?

Tidak, semua pisau di rumahnya sudah ibunya simpan di tempat rahasia yang bahkan ia tak tahu.

Berjalan ke kamarnya, Axel melihat ke arah stop kontak di koridor dan mendapatkan sebuah ide.

Ia segera melesat ke kamar mandi dan menyalakan air untuk mengisi bathtub. Selagi menunggu bathtub penuh, ia pergi ke kamarnya dan mengambil kabel Nintendo Wii miliknya yang tak pernah ia pakai. Lalu, ia meraih gunting di atas meja dan menggunting kabel itu sehingga bagian dalam kabel yang berisi tembaga tampak mencuat dan terlihat dengan jelas.

Saat Axel kembali ke kamar mandi, bathtub­­-nya telah penuh dan bahkan sudah meluap. Setelah mematikan keran air, Axel menghubungkan ujung kabel Nintendo Wii yang tidak tergunting dengan stop kontak di kamar mandi yang biasa ibunya pakai untuk pengering rambut. Lalu, dengan berhati-hati ia membawa ujung kabel yang telah tergunting itu tanpa memegang bagian dalamnya dan masuk ke dalam bathtub yang telah penuh dengan air.

Tangan kanannya yang sedang memegang kabel dan terangkat tinggi di atas air. Ia sedang dalam proses menuju akhir hidupnya, ia tahu itu. Namun, kali ini ia tak punya keinginan untuk mati. Axel hanya bisa berpegang pada perkataan makhluk itu dan percaya bahwa ia akan datang sebelum Axel bisa memanggang tubuhnya dengan sengatan listrik.

Axel menarik napas panjang. Memejamkan matanya. Dalam satu gerakan cepat, ia menghujamkan tangan kanannya ke dalam air.

Belum sempat tangannya terbenam di dalam air, kegelapan kembali menyelimutinya. Lampu kamar mandi tiba-tiba mati dan rasa dingin kembali menyusup ke dalam dirinya. Kabel yang sedari tadi teraliri listrik pun kini terbenam tak berguna di bawah air.

Axel menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka, dan benar saja, makhluk itu sedang berdiri di sana, menatap lurus ke arahnya.

“Harus. Berapa. Kali. Kubilang?” Suara makhluk itu bergema di kamar mandi. Makhluk itu mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya–tampak sedang menahan marah.

Wajah makhluk itu kini tak terhalangi oleh tirai putih keperakan yang biasa menghiasinya. Mata birunya tampak terhalangi sedikit awan kelabu, memudarkan pendar menyala yang biasa terpancar dari sana.

Axel berdiri, menambahkan genangan air yang memang sudah ada di lantai sejak tadi. Ia melangkah keluar dari bathtub dan mencabut kabel Nintendo Wii-nya dari stop kontak–untuk berjaga-jaga apabila makhluk itu menghilang dan listrik kembali menyala. Ia berjalan menuju makhluk itu dan berhenti setengah meter di depannya.

Makhluk itu tak lebih tinggi darinya. Puncak kepalanya hanya mencapai dagu Axel. Matanya yang sejak tadi mengikuti gerak-gerik Axel kini tampak lebih biru jika dilihat dari dekat.

“Kau ini apa?” Axel terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia mengira akan bersuara seperti orang ketakutan dan gagap seperti percakapan pertama mereka. Namun, yang ia dengar adalah suara yang mantap dan penuh dengan rasa ingin tahu.

Axel telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi jawaban seperti apapun. Ia tak mempersiapkan dirinya untuk mendengar suara tawa lembut yang sedang keluar dari mulut makhluk itu. Tawa makhluk itu bergema di dalam kamar mandi. Tanpa Axel sadari, perasaan hangat dan nyaman menjalar dari ujung jarinya hingga ke perutnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Makhluk itu tertawa seakan menganggap Axel makhluk paling menggemaskan yang pernah ia lihat. Tangan kirinya bergerak mengusap air mata yang tak ada di matanya. Axel menunggu hingga tawa makhluk itu reda sebelum akhirnya mendapatkan sebuah kalimat, “Kau sungguh tak tahu?”

Axel menggeleng pelan.

“Bahkan tak pernah berspekulasi?”

Axel mengangguk.

“Aku ini malaikat maut.”

 

***

 

Malaikat maut?

Apa maksudnya?

Selama ini Axel mengira malaikat maut merupakan makhluk yang seram. Yang membawa sabit besar mengkilat ke mana-mana dan menyembunyikan wajah mengerikan di balik jubah hitam yang menyentuh lantai.

Oke, makhluk yang sekarang berhadapan dengannya memang mengenakan jubah hitam, tapi ia tak memiliki wajah mengerikan ataupun sabit besar yang mengkilat.

“Ma–Malaikat maut?”

Makhluk itu mengangguk mantap.

“Sabitmu?”

“Aku meninggalkannya di sana.” Telunjuk makhluk itu mengarah ke langit-langit rumahnya.  “Benda itu hanya diperlukan jika aku hendak mencabut nyawa seseorang.”

Axel mengangguk mengerti. Pantas saja selama ini ia tak membawa sabit, itu karena makhluk itu selalu menghentikannya bunuh diri, bukannya malah mencabut nyawanya.

Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya.

“Lalu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau selalu mencegahku bunuh diri?”

Mata makhluk itu menatap Axel lekat-lekat. Seakan ingin melihat apakah Axel benar-benar ingin tahu jawabannya.

“Karena kau belum boleh mati hari ini. Ataupun hari-hari sebelumnya.”

Axel tersentak kaget. Jadi, hari-hari di mana ia merasa sangat sengsara dan menyedihkan adalah hari di mana ia harus tetap hidup?

“Lalu, kapan aku boleh mati?” 

“Hal itu hanya diketahui oleh Tuhan.” Makhluk itu menambahkan, “Dan asal kau tahu, hari di mana kau ‘boleh’ mati adalah hari kau ‘akan’ mati.”

Axel tak tahan lagi, matanya mengeluarkan air dan tubuhnya mulai berguncang. Kakinya gemetar dan ia pun memilih untuk duduk di lantai yang basah, tak peduli karena tubuhnya pun telah basah.

Axel duduk terisak sambil memeluk lututnya. Wajahnya terbenam di antara kakinya, meredam suara tangisan yang tak bisa ia bendung lagi.

Kenapa ia harus hidup? Kenapa saat ia ingin mati, Tuhan malah menyuruhnya untuk hidup? Apakah Tuhan senang melihatnya menderita seperti ini?

Sesuatu yang lembut menyentuh tengkuk dan sisi kanan lengannya. Membuat tubuhnya yang basah terasa hangat. Axel mengangkat kepalanya dan menyadari bahwa makhluk itu kini telah pindah dan duduk di sisi kiri tubuhnya. Axel bisa merasakan tubuh makhluk itu merapat di sisinya. Sesuatu yang lembut itu adalah sayap kanan milik makhluk itu yang kini sedang memeluknya dari belakang.

“Jangan menangis. Aku yakin Tuhan memberikanmu hidup karena suatu alasan.”

Axel menggeleng. “Agar apa? Agar aku bisa merasa sengsara dan menderita tiap harinya tanpa sahabatku? Agar aku bisa merasa bersalah dan menyedihkan tiap harinya? AGAR APA?!” Matanya menatap ke arah makhluk itu dengan sangat tajam seakan-akan semua ini adalah kesalahannya. Namun, makhluk itu hanya tersenyum tipis dan menatap kembali ke arahnya.

“Agar kau bisa mencari alasan baru untuk hidup.”

“Tapi aku tak ingin hidup sama sekali!”

“Tidak. Kau ingin hidup. Kau hanya tak tahu ingin hidup untuk apa.”

“Jangan sok tahu! Kau tak tahu apa yang kurasakan!”

“Aku tahu. Aku bisa membedakan mata mereka yang ingin mati mereka yang ingin hidup tapi tak tahu untuk apa.”

Axel terdiam. Ia tak pernah berpikir seperti itu. Selama ini, ia mengira ia benar-benar muak akan hidup dan sangat lelah hingga lebih baik mati saja. Ia tak pernah mengira bahwa ia sebenarnya hanya tak tahu alasan ia hidup.

Beribu pikiran berputar di kepalanya. Ia berusaha mengingat-ingat saat ia mencoba bunuh diri untuk pertama kalinya. Benarkah saat itu ia ingin mati? Ataukah hanya belum memiliki alasan ia untuk hidup? Dua hal itu hampir tak ada bedanya tapi sebenarnya merupakan dua hal yang sangat berbeda.

“Ceritakan padaku.”

Kepala Axel menoleh ke kiri. Makhluk itu sedang menatap lembut ke arahnya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang membuat mata birunya berubah menjadi warna langit yang ia sukai.

“Ceritakan apa?”

“Semuanya.”

Di kegelapan kamar mandi yang bergenang air, Axel menceritakan kisahnya dari awal. Ia bercerita tentang sahabatnya yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Ia bercerita tentang hari saat malapetaka itu terjadi. Ia bercerita dengan sangat detil. Dari warna langit tanpa awan yang saat itu menemani mereka pulang bersama hingga malam tak berbintang yang menemani Axel saat sedang berlari menuju rumah.

Dari semua hal gila yang pernah ia lakukan sebelumnya, Axel tak pernah mengira akan menceritakan hal yang paling ia kunci rapat-rapat di dalam hatinya kepada sesosok makhluk gaib.

Dan merasa lega setelahnya.

 

***

 

Satu jam berlalu, Axel telah selesai bercerita dan kini hanya terdengar suara napas mereka berdua di dalam kegelapan kamar mandi. Axel menyadari hal ini dan mendapati dirinya berpikir, apa malaikat maut butuh bernapas? Tapi memilih untuk tidak menyuarakannya.

“Lebih baik aku pergi sekarang.” Malaikat itu tiba-tiba berbicara. Axel mendengar sedikit rasa sedih dan sesal dalam suaranya–tapi mungkin itu hanya imajinasinya saja.

Axel mengernyitkan dahinya, “Kenapa?”

“Ibumu akan sampai ke rumah tiga puluh menit dari sekarang.”

“Lalu? Ia tak bisa melihatmu, kan?”

“Benar. Tapi ia bisa melihat genangan air di kamar mandi dan potongan kabel Nintendo Wii yang ada di lantai.”

Axel mengangguk mengerti. Ia pun berdiri. Makhluk itu ikut berdiri.

“Oke, kalau begitu, biarkan aku membereskannya dahulu.” Axel mulai bergerak untuk meraih kain pel, tapi makhluk itu menjentikkan jarinya dan semua air yang ada di lantai ataupun di bathtub lenyap begitu saja.

Axel mendengar dirinya berkata, “Wow.”

“Kabelmu juga sudah kembali ke tempatnya. Utuh.”

Axel tersenyum ke arah malaikat maut itu dan berkata, “Terima kasih.”

Malaikat itu tersenyum kembali ke arahnya dan Axel merasakan darah naik ke wajahnya. Untungnya, lampu kamar mandi masih mati sehingga malaikat itu tak bisa melihat wajahnya yang memerah.

“Apakah kau akan datang lagi?” tanya Axel ketika malaikat itu berjalan ke arah luar kamar mandi.

Malaikat itu menoleh, kali ini ia telah melipat sayapnya agar bisa melewati pintu. “Jika itu yang harus kulakukan agar kau berhenti melakukan hal itu, berarti ya.”

Axel bisa merasakan jantungnya berdegup dengan cepat. Tanpa sadar, ia berkata, “Kalau begitu, datanglah besok malam.”

“Tidak bisa.”

Axel mengernyitkan dahinya, “Kenapa?”

“Besok aku sibuk.” Seakan sadar bahwa perkataannya membuat Axel sedih, malaikat itu berkata, “Tapi aku bisa datang setiap hari Rabu.”

Senyuman kembali mengambil alih mulut Axel, “Baiklah... aku akan berusaha tetap waras selama seminggu penuh.”

Malaikat itu kembali tersenyum, mulai melangkahkan kakinya untuk pergi kembali ke asalnya. Entah karena adrenalin atau karena melihat senyuman malaikat itu yang memberinya keberanian, Axel mengambil dua langkah cepat ke arah sang malaikat dan meraih pergelangan tangan mungil miliknya.

Dingin.

Axel tak habis pikir kenapa seseorang atau sesosok makhluk yang memancarkan kehangatan ke seluruh tubuhnya bisa memiliki tangan yang dingin.

Malaikat itu melihat ke arah tangannya yang kini berada dalam cengkeraman Axel. Lalu, matanya bergerak ke atas dan berhenti di mata Axel. Mata birunya membulat seakan bertanya, ada apa?

“Siapa namamu?” Axel sudah lelah menyebutnya dengan ‘malaikat’ ataupun ‘makhluk’ di dalam pikirannya. Ia butuh sebuah nama untuk menggantikan dua kata benda menyedihkan itu.

“Aku tak punya nama. Selama ini aku hanya disebut sebagai Malaikat Maut oleh semua orang.”

“Benarkah?”

“Ya, tapi kau boleh memanggilku Azrin.”

 

***

 

“Masih ingin bunuh diri?”

“Akhir-akhir ini tidak terlalu. ‘Hadiah’ yang biasanya diberikan oleh Josie juga sudah jarang kutemukan. Bahkan, dalam seminggu ini hanya dua kali kutemukan bangkai tikus di dalam lokerku.”

“Bangkai tikus? Jadi mereka yang membunuh tikus tak berdosa itu? Benar-benar ya… orang-orang seperti itu yang membuat pekerjaanku makin sibuk.”

“Tunggu sebentar. Jadi, kau juga mencabut nyawa hewan?”

“Ya, tentu saja. Setidaknya yang ada di daerah ini.”

“Berarti kau juga yang mencabut nyawa Olfie tahun lalu?”

“Ahh… anjing itu, ya… iya, benar. Tapi memang itu sudah waktunya. Dia sudah sangat tua dan sakit, Xel…”

“Hei, aku tak menyalahkanmu. Kadang sempat terpikir juga olehku untuk menyuntiknya saja agar ia berhenti menderita.”

“Kau tidak perlu melakukannya.”

“Memangnya kenapa?”

“Karena semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Dia pasti akan mati pada waktunya”

 

***

 

“Azrin…”

“Ya?”

“Apa warna kesukaanmu?”

“Warna? Entahlah… semuanya terlihat sama bagiku.”

“Serius? Kukira kau akan bilang hitam karena kau ini malaikat maut. “

“Hei, pekerjaan ya pekerjaan, jangan dihubung-hubungkan dengan kepribadian.”

“Ya, ya, ya… terserah kau sajalah. Hei, kenapa kau tak bertanya warna kesukaanku?”

“Memangnya harus?”

“Harus. Apalagi aku sudah memintanya.”

“Baiklah… Axel, apa warna kesukaanmu?”

“Biru.”

“Kenapa?”

“Karena matamu berwarna biru.”

 

***

 

“Axel…”

“Ya, Azrin?”

“Apa kau ingat percakapan pertama kita?”

“Yang mana? Bukankah percakapan pertama kita hanya terdiri dari aku dan kau yang berkata satu kalimat? Kalau tidak salah, aku bilang ‘siapa kau?’ dan kau bilang ‘jangan hari ini’. Kalau dipikir-pikir, kau ini tidak nyambung, ya? Aku bertanya ‘ini’ dan kau menjawab dengan ‘itu’.”

“Oh… kalau begitu, berarti percakapan kedua kita.”

“Hmm… bagian mananya?”

“Bagian kau bertanya kenapa Tuhan masih membiarkanmu hidup.”

“Oh, ya, ya… memangnya kenapa?”

“Apakah kau sudah menemukan alasan untuk hidup?”

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?”

“Karena sudah empat bulan dari pertemuan pertama kita dan kau sepertinya tidak terlihat ingin mati lagi.”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kalau begitu, mungkin aku sudah menemukannya.”

“Lalu? Apa alasanmu untuk hidup?”

“Bukannya sudah jelas?”

“Apa?”

“Kau.”

 

***

 

“Azrin….”

“Kenapa?”

“Sebentar lagi aku lulus.”

“Memangnya kau akan lulus?”

“Hei! Jangan meremehkanku, ya! Dasar! Memangnya kau tahu betapa susahnya mengerjakan limit, aljabar, dan trigonometri, hah?! Kerjaanmu hanya mencabut nyawa orang!”

“Aku hanya bercanda. Memangnya kenapa kalau kau lulus?”

“Aku akan kuliah.”

“Dan?”

“Aku akan pergi dari sini.”

“Lalu?”

“Memangnya kau bisa datang menemuiku kalau aku tidak di sini lagi?”

“Hei! Jangan meremehkanku, ya! Aku punya sayap tahu!”

 

***

 

“Hei! Kukira kau berbohong dan tak akan datang! Aku sudah hampir minum pil agar kau datang, tahu!”

“Maaf, maaf… asal kau tahu, malaikat tak bisa berbohong.”

“Benarkah? Coba katakan bumi itu kotak.”

“Bumi itu–“

“Ya Tuhan–Ya ampun–Wajahmu! Ha ha ha!”

“Hentikan! Siapa coba yang menyuruhku berbohong, hah?”

“Aku hanya bercanda….”

“Aku tahu, kok. Tapi aku sungguh tidak bisa berbohong.”

“Benarkah? Coba katakan sesuatu yang tidak mungkin bisa kupercaya, tapi karena kau yang mengatakannya, aku tahu kau tidak berbohong.”

“Aku menyukaimu.”

 

***

 

“Azrin….”

“Ya, Axel?”

“Apakah yang kau katakan minggu lalu itu sungguhan?”

“Yang mana?”

“Kalimat terakhir yang kau katakan sebelum kau melesat keluar jendela.”

“Oh, itu.”

“Ya. Itu.”

“Tentu saja.”

“Bagaimana bisa…?”

“Entahlah. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin, bukan?”

“Tentu saja ada.”

“Yaitu…?”

“Aku tak mungkin bisa hidup selamanya bersamamu.”

 

***

 

“Hei, sudah berapa lama kita bersama?”

“Entahlah… tiga tahun, mungkin?”

“Dan kau masih menyukaiku?”

“Lebih.”

“Aku juga.”

“Lucu, ya… aku bertambah tua… sekarang aku sudah kuliah… tapi kau tetap terlihat sama seperti pertama kali kita bertemu.”

“Kau juga masih suka mengelus rambutku,”

“Dan tidur dengan sayapku sebagai selimut,”

“Dan–“

“Cukup! Tak perlu menyebutkan semua hal itu. Aku jadi malu tahu!”

“Justru karena itu aku melakukannya.”

“Kenapa? Ingin melihat aku malu setengah mati?”

“Itu dan karena wajahmu manis sekali saat kau malu.”

 

***

 

“Azrin!”

“Kenapa kau datang hari ini? Ini hari Jumat, kan?”

“Hei… Azrin?”

“Kenapa kau menangis?”

“Azrin?”

“Apa itu di tanganmu?”

“Bukankah itu sabit?”

“Kau habis mencabut nyawa, ya? Kenapa sabitnya dibawa ke sini juga?”

“Azrin?”

“Hei… jawab aku.”

“Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu dingin sekali?”

“Badanmu gemetaran…”

“Azrin, katakan padaku apa yang–“

“Maafkan aku.”

 

***

 

* Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium sebesar Rp500 ribu (dipotong pajak). Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*   

 

 

Written by Aldilla Yasmin Inas
Photo Source:
pinterest
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar