GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: TAKUT BILANG CINTA

June 17, 2017

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-TAKUT-BILANG-CINTA

 

Kabut tebal menyelimuti pagi ini. Pukul lima pagi di lereng gunung Sumbing terasa dingin sekali. Membuat urat nadi membeku. Aku merapatkan selimut dan bergelung di dalamnya. Beranjak terlelap lagi. Beberapa saat kemudian, kurasakan dingin menyelimuti tubuhku, seiring dengan selimutku yang ditarik cepat. Aku mendongak. Siapa orang menyebalkan yang mengganggu tidurku pagi ini?

 

 

“Woi, sholat subuh dulu!”

Aku mengucek mataku sejenak seiring pandangan yang semula kabur menjadi jelas. Ah, laki-laki itu lagi. Tunggu dulu...

“Woi, ini kan kamar cewek!” Aku balas berteriak. Rambutku mencuat ke sana kemari, aku tidak tau bagaimana keadaan wajahku saat itu. Aku tidak peduli.

“Tau kok, ini kamar cewek. Terus kenapa? Mau molor sampe jam berapa, Citra?” tanyanya, tentu saja dalam nada intonasi yang sinis.

Aku memberengut, beranjak dari tempat tidurku, kemudian mengambil air wudhu. Airnya sedingin es, membuatku membeku seketika. Aku cepat-cepat menyelesaikan wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh. Di sini pukul lima pagi terasa masih petang, berbeda sekali ketika berada di perkotaan di mana pukul lima pagi langit sudah begitu cerah.

Hari ini tepat hari ke-25 aku berada di daerah yang sedikit pelosok, untuk memenuhi salah satu mata kuliah di semester akhir. Mata kuliah ini tidak diajarkan di kelas seperti biasa, namun kami terjun langsung di masyarakat. Kami diharapkan dapat berbaur dengan masyarakat dengan membawa program-program yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas keadaan masyarakat yang kami datangi. Kami beranggotakan 10 orang, 6 orang perempuan, dan 4 orang laki-laki. Meski kami berasal dari universitas yang sama, tetapi dari berbagai fakultas yang berbeda.

Kami hidup dalam rumah yang sama, persis di samping rumah kepala desa. Meskipun begitu kamar perempuan terpisah dengan kamar laki-laki. Tetapi kami saling peduli satu sama lain, seperti kejadian bangun-membangunkan tadi. Bagaimanapun juga 10 orang hidup di bawah atap rumah yang sama menuntut kami untuk saling menjaga. Hidup di bawah atap yang sama dari hari ke hari memungkinkan juga untuk jatuh cinta terhadap satu sama lain. Hal itu tidak dapat dihindari. Misalnya saja aku pada orang yang membangunkanku pagi tadi.

Meski terkadang aku merasa sebal dengannya, karena ia terus menerus mengejekku, tetapi tak bisa dipungkiri perasaan sukaku mulai tumbuh dari hari ke hari. Demi menyembunyikan perasaan sukaku yang semakin hari semakin subur, aku seringkali bertingkah konyol di hadapannya.

Udara segar area pegunungan membuatku kembali berpikir jernih. Tanpa peluh asap hitam kendaraan bermotor, sepanjang mata memandang hanya ada pepohonan hijau dan langit biru cerah. Setiap pagi aku dan temanku akan menanti terbitnya mentari pagi, ditemani secangkir teh manis panas, terkadang dengan uap yang masih mengepul, tetapi cepat sekali terasa dingin, tidak membutuhkan waktu lama, karena cuaca di sini yang dingin. Biasa hidup di cuaca yang panas, membuatku sedikit kaget merasakan dinginnya cuaca di sini.

“Setelah ini kita rapat ya, membahas program perpustakaan keliling. Hari ini yang piket Citra dan Gilang, tugasnya memasak dan mencuci piring,” kata ketua kelompok kami. Aku memberengut. Gilang lagi, Gilang lagi. Bagaimana aku bisa melupakan perasaanku padanya jika kami terus menerus berada pada tempat dan waktu yang sama? Aku melangkah gontai menuju dapur.

Gilang terlihat sedang memarut kelapa. Menu hari ini sayur lodeh, ikan asin dan tempe goreng. Aku bergegas memotong tempe dan menghaluskan bumbu. Kami melakukan aktivitas ini dalam diam. Entah kenapa aku merasa tidak harus mengajaknya bicara lebih dulu, supaya aku bisa meminimalisir perasaan sukaku yang terkadang sulit dikendalikan. Sepuluh menit berlalu diiringi dengan suara ulekan cobek dan minyak yang sedang dipanaskan.

“Hoi, ntar temenin ke kota sebentar, beli galon tuh airnya abis.”

“Ya,” sahutku singkat.

“Kenapa kamu? Sakit hati sama aku?” Iya sakit hati karena kamu nggak tau perasaan aku, batinku. Namun yang keluar dari bibirku hanya dua kata,

“Sakit gigi.”

“Makanya rajin sikat gigi kalo malem, tuh rambut disisir, kalah tau sama orang desa aja cantik-cantik.”

Bodo amat. Aku meliriknya galak.

“Biasa aja kali ngeliriknya, aku tau kok aku ganteng,” kata Gilang cengengesan. Demi apa banget aku bisa suka sama lelaki seperti ini, Ya Tuhaan...

Aku memutar bola mataku, berusaha mengabaikan seseorang yang disuka memang bukan hal yang mudah ya.

Aku jadi ingat mengapa aku bisa menyukainya. Awalnya karena kami sering memperdebatkan hal-hal remeh, aku jadi sering bicara dengannya. Semakin sering aku bicara dengannya, aku jadi sedikit lebih memahaminya. Semakin lama, aku merasa berdebat dengannya adalah hal yang selalu aku tunggu ketika kami berkumpul bersama.

Tapi perasaan ini mungkin hanya milikku seorang. Gilang bersikap yang sama pada teman-teman yang lain. Singkatnya, ia lelaki yang menyenangkan dan peduli. Akulah yang terbawa perasaan karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama.

“Ngelamun aja terus.. Gosong tuh!” kata Gilang sambil menoyor kepalaku. Gelagapan, aku segera membalik tempe yang sudah berwarna kehitaman. Sepertinya aku harus segera menyadarkan diriku.

“Udah sini  aku aja yang goreng, kamu duduk deh di sana.” Aku hanya berlalu tanpa membantah.

Aku duduk sendiri di kebun belakang rumah, sambil pura-pura menyiram tanaman cabe yang tumbuh subur di sana. Aku memikirkan kembali perasaanku. Hanya karena aku menyukainya, bukan berarti ia juga harus menyukaiku. Aku harus bisa menata kembali hatiku. Aku mendesah kuat-kuat. Aku baik-baik saja hidup selama 20 tahun ini tanpanya, mengapa sekarang harus berbeda? Baiklah, aku pasti bisa bersikap layaknya seorang teman biasa, kataku berusaha menyemangati diriku sendiri.

“Citra, ayo kita beli galon!” teriak Gilang dari dapur.

“Iya!” seruku sambil bergegas kembali ke dapur.

 

***

 

“Cit, menurutmu aku orang yang seperti apa?” tanya Gilang tiba-tiba. Kami sedang berboncengan motor menuju kota untuk membeli galon.

“Gilang orang yang narsis, nyebelin, pokoknya nggak ada baik-baiknya deh!” kataku asal menimpali.

“Serius Citraaa...” Tumben nih anak lagi kesambet apaan ya, tiba-tiba tanya hal yang nggak biasa, pikirku.

“Gilang orangnya care sama orang lain.” Makanya aku sering salah paham, sambung Citra dalam hati.

Diam sejenak, yang terdengar hanya hembusan angin.

“Menurutmu.. aku cocok nggak sama Vina?” Deg! Aku terdiam, berusaha memilih kata yang tepat supaya tidak terlihat tidak rela.

“Cocok aja, kenapa?” kataku sedikit acuh.

“Nggak apa... kalo nembak kira-kira diterima nggak ya?” Kata-kata Gilang barusan sukses membuat air mataku yang sudah kutahan-tahan, mengalir perlahan. Aku cepat-cepat menghapusnya.

“Cit? Kamu belum budek kan?”

“Belum kok, menurutku ya dicoba aja.” Akhirnya keluar kata-kata yang menipu diri.

Diam lagi.

“Cit, kok akhir-akhir ini kamu jadi lebih pendiem, sensitif, terus kalo diajak ngobrol, jawabnya singkat- singkat?” tanya Gilang lagi.

“Lagi sakit gigi,” jawabku sekenanya. Gilang tiba-tiba menghentikan laju motornya, kemudian menengok ke belakang. Semoga aku tidak kelihatan habis menangis, bisikku dalam hati.

“Kenapa kok tiba-tiba berhenti?”

Gilang menatapku sejenak, kemudian berkata, “Cit, kamu habis nangis ya? Kok matanya berkaca-kaca gitu?”

Aku mengedipkan mata berkali-kali. “Nggak, ini saking sakitnya nih gigi jadi pengen nangis terus,” sahutku sambil pura-pura memegang rahang kananku.

“Abis ini berobat deh yuk ke puskesmas.” Duh, kalo kamu semakin baik begini, gimana aku bisa move on?

Aku menggeleng cepat. Gilang masih menatapku. Tak tahan, aku pun menunduk.

“Cit, aku boleh nanya sesuatu?” Aku mendongak menatapnya.

“Kamu suka sama aku, ya?” Kali ini tidak ada sorot mengejek di matanya. Kuputuskan berkata jujur. Aku pun mengangguk.

“Sejak kapan?” Aku hanya mengangkat bahu, tak sanggup berkata-kata. Air mataku perlahan mulai turun lagi. Dasar cengeng, batinku.

“Menyukai seseorang itu bukan dosa Cit. Kamu nggak harus merasa malu.” Aku tetap menunduk.

“Mau aku kasih tau rahasia nggak?” Aku mengangguk, wajahku masih menunduk, menatap tanah.

“Aku juga sebenernya suka sama cewek cengeng yang ada di depanku.” Kata-kata itu sukses membuatku mendongak lagi, menatap lurus-lurus mata Gilang, mencoba mencari kebenaran di sana.

“Tadi aku cuma ngetes doang dan pengin tau aja gimana perasaan kamu. Ternyata langsung nangis nggak jelas gitu. Makanya kalo suka tuh ngomong. Untung orang ganteng ini belum jadi milik orang lain.” Jelas Gilang sambil mengeluarkan cengiran khasnya.

“Gilaaaaang!!!!!!”

 

***

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*  

 

 

Written by Citra Devi
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar