GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: TIGA LANGKAH

December 31, 2016

GOGIRL!-WEEKEND-WEB-STORY-TIGA-LANGKAH

 

“Tiga langkah ke depan, maka kamu akan mati.”

Kalau saja kalimat itu diucapkan Bragi—si kribo yang bercita-cita jadi aktor Hollywood dan suka sok akting tidak jelas di depanku—aku pasti akan langsung berkeinginan melemparnya ke luar angkasa.

 

Sayangnya, kalimat itu terlontar dari bibir Sarah. Seantero sekolah tahu ucapan Sarah serupa tuah. Ya, kalimatnya sakti. Seakan ia tahu itu akan terjadi.

Lihat saja panggilan yang tersemat padanya: Miss Cenayang. Bukan tanpa alasan ia dipanggil seperti itu.

Aku tidak bisa menyebut ini sebagai prestasi Sarah sebagai Miss Cenayang. Tapi, ini benar-benar terjadi. Tepatnya tiga hari yang lalu. Dengan enteng Sarah menunjuk langit-langit kelas, tepat di atas meja guru.

“Bu Laras akan terluka. Akan ada yang jatuh dari sana,” ujarnya datar, tanpa ekspresi sama sekali.

Kalian tak akan percaya kalau tak melihatnya sendiri. Ketika Bu Laras tengah menulis sesuatu di mejanya, plafon di atas meja guru terjatuh, diiringi tubuh Black dan White. Black dan White adalah dua kucing peliharaan Pak Kasim, si penjaga sekolah. Mereka memang suka bermain di kolong langit-langit.

Black dan White berlari keluar kelas. Kami yang panik segera menolong Bu Laras yang mendadak pingsan. Sementara Sarah cuma menatap kepergian Black dan White. Ia bergumam samar. Aku sempat mendengar ucapannya.

“Black dan White akan punya bayi-bayi kucing yang lucu.”

Sebenarnya, bukan cuma itu saja ‘prestasi’ Sarah. Kalau kujabarkan, akan sepanjang sepuluh halaman esai tugas Geografi Pak Lukas. Yang jelas, aku tak bisa tak menghiraukan ucapan yang keluar dari bibir Sarah.

Apalagi kalau ini menyangkut diriku. Ah, kematianku.

Aku meneguk ludah gugup seraya menoleh. Seperti biasa, wajah Sarah tanpa ekspresi. Ia memandang ke kejauhan, tepatnya pada zebra cross di seberang jalan. Kami memang sedang menunggu bus di halte.

“A-apa maksudmu?” tanyaku gagap. Spontan aku memaku tubuhku agar tak bergerak sesenti pun.

Sarah menoleh. Tanpa mengindahkan pertanyaanku, ia menunjuk ke atas. Aku mengikuti arah telunjuknya. “Sebentar lagi hujan. Kamu nggak bawa payung, kan?” ucapnya datar.

Alisku menyatu, heran. Di atas sana hanya ada gumpalan awan putih dan langit biru yang membentang. Sama sekali tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Aku makin tak mengerti. “Terus apa hubungannya?”

Sarah kembali terdiam, membuatku gemas. Saat itulah, aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan nada nyaring. Aku melengos sebal. Cuma satu orang yang memanggilku seperti itu. Cowok yang paling ingin kuhindari—Bragi.

“Halo, Liana sayang! Mau pulang, ya? Walau keringetan, kamu tetap menawan di mataku,” rayunya gombal.

Aku mendengus. Semenjak awal masuk sekolah, cowok ini sudah mendeklarasikan rasa sukanya padaku. Katanya ia jatuh cinta ketika melihatku pertama kali di kantor TU.

Jujur saja, aku malas berurusan dengan Bragi. Aku merasa terganggu dengan perhatiannya yang berlebihan. Juga dengan rayuan gombalnya yang bikin kuping panas itu. Meski, yah… kadang ia bisa diandalkan juga. Misalnya ketika aku pingsan beberapa waktu lalu ketika pelajaran olahraga, Bragi lah yang membopongku ke UKS. Pernah juga ketika buku tugas Matematika-ku ketinggalan di rumah, ia juga menawarkan diri untuk mengantarku mengambilnya.

Banyak yang menyayangkan kenapa aku dan Bragi tidak jadian saja. Apalagi Bragi begitu peduli padaku. Sayangnya, aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku sama sekali tidak ada perasaan khusus padanya.

“Kok diem aja sih, Liana? Haus, ya? Mau aku beliin es krim?”

Aku melengos, benar-benar merasa tak nyaman dengan perhatian Bragi. Dengan sengaja aku merapat pada Sarah. Aku berharap aura Sarah yang kelam efektif mengusir siapa pun yang mendekat, termasuk Bragi.

Biasanya sih aku tak mau dekat-dekat Sarah, meski kami duduk sebangku. Pertemuan di halte ini pun tak sengaja. Aku pulang telat karena ada rapat OSIS. Sementara Sarah lebih suka berkubang dengan buku di perpustakaan, dibanding pulang ke rumahnya. Entah apa sebabnya, aku pun tak tahu.  

“Lho, ada Sarah. Halo, Sarah! Seperti biasa ya, kamu serem.” Tanpa ragu Bragi menyapa Sarah—meski menurutku kalimatnya tidak sopan. Rupanya aura kelam Sarah tak mempan pada cowok itu. Sial.

“Kejadian plafon jatuh itu nggak disangka banget, lho. Ada kejadian seru lagi nggak nih? Yang nggak diduga gitu? Seperti tiba-tiba cewek di sampingmu itu jatuh cinta sama aku…” Bragi mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku melengos malas. Mulai, deh. Bragi benar-benar tidak punya urat malu!!

“Ada.”

Ucapan pendek Sarah seketika membuatku tersentak. Aku melirik Sarah. Kalau biasanya cewek itu tidak menanggapi pembicaraan orang lain dan cenderung cuek, kini ia menatap Bragi tanpa kedip.

“Ada apanya, nih? Maksudnya ada kemungkinan cewek di sampingmu naksir aku, gitu?” seru Bragi semangat.

Belum sempat Sarah menjawab, mendadak gerimis turun. Aku mendongak. Mulutku ternganga. Langit yang tadi cerah, kini berubah kelabu. Oh My God, kata-kata Sarah sungguh menjadi kenyataan!

“Sarah, jawab dong!” kejar Bragi, menuntut penjelasan Sarah. Sayang, cewek itu bergeming, kembali menjadi sosoknya yang cuek dan tak menghiraukan sekitarnya.

Hujan kini mulai turun. Jantungku berdebar keras. Kalau masalah hujan saja benar terjadi, apa mungkin… tubuhku bergidik. Aku ketakutan setengah mati.

“Kamu beruntung, Liana.” Sarah tiba-tiba menoleh ke arahku. Ia tersenyum tipis. Senyum yang pertama kulihat semenjak aku mengenalnya.

Belum sempat aku mencerna kalimat Sarah, sebuah goncangan besar terjadi, membuat atap halte bergetar. Spontan aku berpegangan pada pilar halte. Akhir-akhir ini gempa memang sering terjadi. Kata Pak Lukas itu karena ada pergerakan lempeng bumi.

Saat itulah, seseorang yang berdiri di belakangku tak sengaja menabrakku. Tubuhku oleng. Tanpa sadar aku menjejakkan dua langkah ke depan. Lalu, seperti teringat kata-kata Sarah, aku menghentikan langkah. Jantungku berdebar, takut kata-kata Sarah menjadi kenyataan.

“AWAS!!”

Terdengar seruan seseorang. Mataku melebar. Tepat di depanku, sebuah truk kontainer kehilangan kendali, karena bannya meletus. Truk itu melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi.

Aku menatapnya tanpa kedip. Tubuhku membeku, seolah ada sesuatu yang menahanku untuk pergi.

“Liana, awas!!”

Sebuah dorongan membuatku terjerembab ke samping. Aku menoleh. Bragi memandangku cemas. Lalu… BRAK!! Bagian depan truk itu menabrak tubuh Bragi hingga terseret ke belakang halte. Orang-orang yang berlindung di halte karena kehujanan, sontak menyingkir. Mereka menatap tak percaya pada Bragi yang terkapar dan bersimbah darah.

Lututku lemas melihat pemandangan itu. Aku tak sanggup berdiri.

“Bragi menyelamatkan nyawamu…”

Aku menoleh. Sarah mengulurkan tangan, membantuku berdiri. Tangannya basah terkena air hujan.

“Sayang sekali. Hidupnya hanya sampai di sini…”

Tubuhku bergetar hebat. Kutatap tubuh Bragi yang dikerumuni orang-orang. Air hujan membuat darahnya tergenang.

“A-apa kamu tahu Bragi akan…” Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku.

Sarah menggeleng. “Dewa Kematian suka bermain-main. Seharusnya kamu yang ada di sana. Tapi, Bragi menyukaimu. Dia nggak mau kamu terluka. Bukannya dari dulu dia selalu menjagamu, meski kamu nggak peduli padanya?”

Aku menelan ludah. Kata-kata Sarah menohok jantungku.

Seketika aku ingat perhatian yang Bragi berikan untukku, juga kalimat yang ia ucapkan tiap pagi. Kalimat bernada tulus yang tak pernah kuhiraukan maknanya.

“Liana, I love you.”

 

***

 

* Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke metha@gogirlmagazine.com, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh penulis dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*  

 

 

 

Written by Eni Lestari
Photo Source:
pinterest
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar