WAKTUNYA KITA RAYAIN PERBEDAAN DAN HARGAIN KEBERAGAMAN

June 19, 2017

CELEBRATED-DIFFERENCE

 

Kalo nggak bisa meng-handle perbedaan dari sekarang, semakin dewasa kita akan makin sulit bergaul dan berpikiran sempit. Let’s face it, nggak ada manusia di dunia ini yang sama. Semuanya pasti berbeda dan punya kekhasan masing-masing. Karena perbedaan itulah, maka wajar kalo dalam pergaulan kita ketemu orang-orang yang berbeda fisik, sifat, karakter, opini dan tingkah laku. Tapi di banyak kasus, perbedaan-perbedaan itu justru jadi penghalang. Banyak perbedaan yang awalnya kecil dibesar-besarkan hingga jadi konflik yang merenggangkan persahabatan.

 

 

DON’T JUDGE A BOOK BY IT’S COVER

Jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Idealnya sih begitu, tapi susah banget untuk diikuti karena di dunia ini, penampilan masih jadi patokan. Semakin kinclong dan semakin bagus tampilan luar seseorang, they’ll get more respect. Padahal penampilan seseorang nggak mutlak mencerminkan kebaikan hatinya, banyak faktor penting selain penampilan yang menentukan baik-nggaknya seseorang, yaitu hati, ketulusan, sifat, kepintaran dan moral. Girls, look can deceive. Jangan tertipu dengan bungkus luar seseorang, sekarang adalah zamannya menilai ‘bobot’ seseorang dari sikap dan perbuatannya.

 

PRIDE AND PREJUDICE

Prejudice atau prasangka buruk muncul dari kondisi hati yang curiga dan iri. Imam Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama bilang kalo prasangka itu ada dua jenis, yaitu prasangka yang ditampakkan melalui ucapan atau tulisan dan prasangka yang hanya disimpan dalam hati dan tidak diungkapkan. Walau kadar keduanya berbeda, tapi sama aja buruknya karena kalo seseorang menyimpang prasangka buruk dalam hatinya, cepat atau lambat hal itu bisa berkembang jadi lewat ucapan, tulisan dan tindakan. Jadi semua prasangka negatif awalnya bermula dari dalam hati manusia. Ini harus dihindari. Memiliki prasangka negatif nggak ada manfaatnya sama sekali karena akan menghambat kita dalam mengenal dan akrab dengan orang lain.

 

IT’S SO EASY JUDGING OTHER PEOPLE

Manusia (terutama remaja) cenderung berkelompok dengan yang punya kesamaan. Anak kompleks lebih sering gaul dengan anak-anak kompleks pula (jarang dengan anak ‘kampung’ di luar perumahan). Di sekolah terbentuk kelompok pertemanan antara anak-anak yang sama-sama dari kalangan kelas atas, sama-sama gaul, sama-sama modis, dll. Itu dianggap normal karena bergaul dengan yang punya banyak kesamaan tentu bikin kita nyaman dan nggak terintimidasi. Jadi masalah kalo kita membatasi pergaulan kita di situ-situ aja. Nggak mau mengenal orang yang berbeda atau malah menghakimi seseorang karena perbedaannya. Emang sih kita merdeka dan bebas memilih mau bersikap positif atau negatif terhadap situasi atau orang-orang tertentu. Tapi jangan sampe begitu melihat yang agak lain sedikit, kita langsung refleks men-judge.

Sadar nggak kalo kita sering menghakimi orang lain karena hal-hal remeh? Kayak dari cara bicara seseorang yang aneh, cara seseorang tertawa yang menurut kita berlebihan, cara bergaul seseorang yang terlalu centil, gaya berpakaian yang so-last-year, sampe tingkah laku seseorang yang menurut kita terlalu alim. Nggak jarang kita juga menilai orang berdasarkan tampang, popularitasnya, kekayaan orang tua dan status ke-gaul-an. Padahal penilaian kita itu bisa salah 100%. Hanya karena seseorang nggak up to date dengan fashion, belum tentu dia kuno dan nggak asik. Dan belum tentu juga orang yang jago berkata-kata adalah orang yang pintar dan tulus. Sering juga penilaian kita cuma berasal dari hasil pengamatan singkat, tanpa pernah ngomong atau mengenal orang itu lebih dulu. Padahal tampilan luar seringkali berbeda 180 derajat sama what’s inside every person. Kita pasti nggak suka dihakimi orang lain kan? Jadi jangan suka menghakimi orang lain juga yaaa.....

 

CELEBRATED-DIFFERENCE

 

DIFFERENT OPINIONS

Tiap orang dikaruniai akal untuk berpikir dan pengalaman hidup  yang berbeda-beda, maka nggak mungkin opininya sama semua. Kita berhak untuk suka atau nggak suka dengan opini orang. Tapi kita nggak boleh ngotot dengan opini kita karena mengemukakan pendapat juga ada etikanya! Kita nggak suka bukan berarti pilihan kita lebih baik.... yang ada hanya berbeda. Ini dia trik dan rambu-rambu supaya perbedaan pendapat nggak berujung masalah:

  • Kalo beda pendapat, tetaplah berdiskusi dan beragumen dengan kepala dingin. Jangan bawa-bawa kekurangan atau masalah pribadi ke arena diskusi. Itu nggak fair!
  • Siap menerima umpan balik dan risiko dari apapun yang kita sampein. Kalo responnya positif, itu bagus. Tapi kalo responnya ternyata menuai protes, tetep cool dan jangan terpancing.
  • Keluarkan opini dengan bahasa yang jelas dan santun, jangan menyisipkan kata-kata kasar yang bisa menyinggung.
  • Mengkritik seseorang boleh-boleh aja, tapi jangan sampe salah kaprah dengan menghina atau mencela. Hinaan dan celaan biasanya dilontarkan buat menyakiti dan menghakimi orang, beda dengan kritik yang tujuannya membangun.

 

DEFINETELY NO NO 

  • Memandang orang dengan sebelah mata. Penyakit meremehkan ini bakal bikin kita nggak tertarik atau malas bergaul. Orang yang berpenyakit kayak ini bagai katak dalam tempurung karena nggak mau mengakui kelebihan orang lain dan ogah melihat kekurangan dirinya sendiri.
  • Terburu-buru memvonis orang. Most people think kalo menemukan orang yang bersalah maka harus dicela atau menegur dengan keras. Come on, let’s give these people a second chance! Toh semua orang melakukan kesalahan kan.....
  • Selalu mengingat kesalahan orang. Try to forgive people’s mistakes, nggak usah memperkeruh suasana dengan terus mengungkit-ungkit kesalahan atau kekurangan orang, apalagi di depan orang lain...
  • In this world, there is no room for racism. Jangan pernah merasa suku, agama, warna kulit, atau ras kita adalah yang paling super hingga merendahkan atau mengucilkan orang yang SARA-nya berbeda. Those attitude only show that you’re uneducated and not modern!
  • Jangan membatasi pergaulan hanya dengan orang-orang yang kita anggap selevel atau sebanding dengan kita karena kita merasa ‘tinggi’ dan memvonis orang-orang tertentu lebih ‘rendah’. Ask your self? Pernah nggak kamu bergaul sama anak ART, anak sopir, anaknya mbok di kantin? Atau kita hanya mau bermain dengan anak direktur atau anak yang ayahnya pejabat atau artis terkenal? Duh, jangan sampe deh kita bersikap manis kepada orang kaya tapi judes sama orang yang ‘nggak punya’ sehingga mereka merasa minder dan menjaga jarak. By doing that, kita udah menyinggung perasaan orang dan membuat ‘gap’ sosial dengan kesombongan kita.

 

DEFINETELY A YES 

  • Prinsip dasar pergaulan adalah gimana kita membangun komunikasi dengan orang lain. Untuk itu perhatikan sikap dan manner kita. Pepatah marketing bilang kalo Attitude is Everything.
  • Pepatah bilang “tak kenal maka tak sayang”. Untuk menghindari persepsi negatif tentang seseorang, coba deh kenalan dulu. Dari situ kita bisa tau apakah persepsi awal kita benar atau salah. Setelah kenal, baru kita bisa memahami dan memutuskan pantas nggaknya dia dijadikan teman atau justru harus dijauhi.
  • Selalu berbaik sangka. Jangan harap kita bisa selalu ceria kalo pikiran kita selalu dipenuhi dengan prasangka buruk terhadap orang lain. Bisa-bisa kita akan selalu hidup dalam kecurigan dan ketakutan. Think positive!
  • Bergaulah dengan siapa aja. Jangan membatasi diri hanya bergaul dengan kalangan tertentu aja karena membatasi diri berarti menutup diri dari ilmu dan kesempatan.
  • Tunjukan kepedulian. Filsuf Martin Buber dalam bukunya I and Thou bilang kalo relasi yang baik adalah relasi dialogis. Yaitu menghadapi orang lain sebagai “orang” dan subjek yang mesti didengarkan dan dihormati.
  • Hargai perbedaan. Jangan rasis, pilih kasih, atau making snap judgement!

 

 

Written by Gracia Silaban, rewritten by Ayudya Annisa
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar