IN RESPONSE OF BULLYING, STOP BEING A PART OF SILENT MAJORITY!

July 17, 2017

IN-RESPONSE-OF-BULLYING-&-VIOLENCE-STOP-BEING-A-PART-OF-SILENT-MAJORITY!

 

Jagat media sosial, terutama Instagram, baru-baru ini dihebohin sama video bully-ing dan kekerasan yang dilakuin oleh beberapa pelajar.  Nggak main-main, anak-anak ini nge-bully temennya yang berkebutuhan khusus. Orang-orang di sekelilingnya bukannya melerai kejadian itu, mereka malah ketawa, foto, bahkan video-in juga kekerasan yang ada di kasus lainnya. This is so not cool, dan tanpa Gogirl! point it out, you probably should’ve known kalo perbuatan ini nggak seharusnya dilakukan.

 

 

Di beberapa akun social media di internet, banyak dimuat video bullying terhadap siswa berkebutuhan khusus yang dilakukan di sebuah perguruan swasta. Sedih banget ngeliat temen-temen yang berada di bangku kuliah dan seharusnya sudah bisa berpikir dewasa, malah nge-bully temennya yang berkebutuhan khusus. Dan tambah sedih karena nggak ada satupun orang di video tersebut yang keliatan menolong.  Beberapa anak yang berada di belakang cuma diem dan nonton kejadian itu, bahkan kedengeran suara tertawa yang keras melihat temennya yang berkebutuhan khusus tersebut berusaha melindungi diri. Banyak juga video lain yang kita liat bersliweran di social media dan juga YouTube, satu kelompok siswa-siswa berseragam keroyokan nge-bully temennya, entah itu di sekolah atau di luar sekolah. Nggak jarang bukan cuma kata-kata kasar aja yang dikeluarin, seringkali pake kekerasan bahkan sampe nyuruh si korban sujud lho buat nunjukkin power si pe-bully!

Persamaan yang terdapat di kedua video ini adalah silent majority yang ada di lokasi kejadian, yang cuma nonton dan ngeliatin seseorang yang lagi diperlakukan nggak benerGimana kalo kita ada di tempat itu? Apakah kita juga bakal cuma ikutan nonton karena takut ikut kena masalah? Atau takut dibilang sok pahlawan? Satu hal yang harus banget kita inget adalah, dengan diam aja kita nggak bedanya sama mereka para tukang bully tersebut. Apalagi dengan ikutan ngetawain dan malah ngerekam biar dibilang keren dan jadi part of the squad. There's nothing cool about bully, nor it will be in the future.

Apa sih untungnya kita nge-bully? Toh kalo berkaca dari kasus di atas, para pelaku bully ujung-ujungnya malah diproses secara hukum oleh kampus mereka, malah bisa sampe ke melibatkan pihak kepolisian segala. Kalo sampe ada tuntutan hukum, bisa masuk peradilan dan kena hukuman penjara! Nggak ada keren-kerennya dan malah jadi sumber hujatan para netizen. Akun social media para pelaku bahkan bisa jadi sampe di-private karena nggak tahan sama kata-kata pedes dan cacian akibat perbuatan mereka. This is what happen when the  netizen become the social police.  

 Terus, gimana kalo kita ada di tempat dengan kejadian seperti itu? Apakah kita juga bakal cuma ikutan nonton karena takut ikut kena masalah? Atau memilih diam karena takut dibilang jadi sok pahlawan? Here are the things we should and shouldn’t do ketika dihadapin sama keadaan kayak gini.

WHAT WE SHOULDN’T DO

  • Nontonin. Sekali lagi, this is so not cool, apalagi kalo kita ikutan ngetawain. Violence and bullying is never a funny thing dan kekerasan itu nggak pantes buat ditontonin. Karena kalo kita mulai nontonin, pasti nanti akan jadi banyak yang ikutan nonton, malah nambah massa di tempat itu, bikin si korban bisa jadi lebih terintimidasi dengan kehadiran banyak orang, dan bikin si pelaku ngerasa lebih powerful karena bisa ngedapetin banyak atensi dengan perbuatannya.
  • Foto & Video. Kalo nontonin aja udah nggak bener, apalagi difoto-foto dan dimasukkin ke media sosial. Keramaian nggak cuma bikin si korban jadi makin terintimidasi, tapi bisa jadi bikin si pelaku merasa perbuatannya itu benar, since no one is stopping them and people take pictures of them instead. Setelah foto dan video itu tersebar ke social media, be aware that the whole world can see the post. Postingan kita bisa diliat oleh orang di seluruh dunia, jejak kita nggak akan hilang even though kita udah ngapus dokumen-dokumen itu.
  • Provocation. Meskipun seandainya kita benci sama si korban atau emang nggak punya hubungan baik, tapi it is not okay to provoke si pelaku untuk nerusin perbuatannya. Simpelnya, jangan nyorakin dan bikin suasana makin ricuh. Being silent aja udah salah, apalagi kalo kita malah memperkeruh keadaan dengan ‘nyemangatin’ pelakunya buat mukulin dan memaki-maki orang lain. Jangan ngelakuin hal buruk kalo kita nggak bisa melakukan hal baik.

 

WHAT WE SHOULD DO

  • Do Something. Bullying, apalagi kalo udah sampe ke penganiayaan dan kekerasan adalah hal yang not okay banget buat ditontonin. Do something once you know it’s wrong. Berusaha ngebelain atau melerai aja udah cukup membantu kok. Kalo takut malah ikut dipukulin, ajak temen-temen sebelah kita yang sebelumnya juga ikutan nontonin buat bantu kita melerai. Lindungin si korban biar nggak kena pukul lagi kayak sebelumnya. Manusia itu dasarnya adalah mahluk sosial. Jadi kalo ada satu aja yang terlihat ngebelain korban, yakin deh bakalan ada yang ikutan dan ngebantu di belakang kita. Mereka cuma butuh pemicu, dan kita bisa bertindak sebagai pemicu yang menyulut rasa kemanusiaan mereka.
  • Mediate. Jadilah penengah di permasalahan itu, apalagi kalo kita lebih tua daripada pihak yang bertikai ini. Harus ada ketegasan dari kita yang paling nggak bisa ngebantu. Even better kalo kita bisa bantu nyelesain masalah dan bikin mereka saling minta maaf. Keep in mind that silence won’t solve the problem; even more bullying and violence.
  • Call for Help. Kalo masih nggak berani juga, atau malah takut dikira ikut campur dalam permasalahan dan malah jadi kesangkut paut, kita bisa minta bantuan dari bagian keamanan di sekitar, entah itu satpam, polisi, atau bahkan guru seandainya kejadian ini terjadi di sekolah. Orang-orang dewasa pasti akan bisa lebih tegas buat melerai perkelahian atau mengamankan korban yang dianiaya dan di-bully.
  • Report it! Kalo kita baru tau belakangan, atau terlambat tiba di kejadian, laporkan pada pihak yang berwenang adalah yang paling tepat untuk dilakukan. Kasus bully ada karena banyak pihak memilih diam dan nggak mau ikut campur. Padahal efek yang ditimbulkan itu berkepanjangan lho girls, nggak cuma buat korban aja, tapi juga pelaku. Korban bisa jadi trauma, bahkan di banyak kasus ada yang berujung pada bunuh diri. Sementara pada diri pelaku, bisa jadi kebiasaan bully mereka adalah cikal bakal premanisme di masa depannya. 

Gogirl! berharap ke depannya nggak ada lagi kasus anak-anak yang main hakim sendiri kayak gini, and we should do something and stop keeping our mouth shut whenever we see thing like this. Para korban, meskipun mungkin mereka punya kesalahan dan mungkin adalah biang dari permasalahan, nggak pantes buat dihakimi secara ‘keroyokan’. Apalagi anak-anak berkebutuhan khusus yang punya hak sama seperti warga negara lainnya. Stop being too silent, girls, you are so much more than a silent majority.

 

 

Written by Kezia Maharani Sutikno
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar