TEENAGE AND POLITICS AS CONSTANT ‘HORROR’

July 17, 2017

TEENAGE-AND-POLITICS-AS-CONSTANT-HORROR

 

“Politik? Aduh berat, nggak sampe otak gue”; “Luhut Binsar? Arcandra Tahar? Siapa tuh?”. Nggak asing lagi, mayoritas millennials emang males banget kalo udah bahas hal-hal yang dekat kaitannya sama politik. Jangankan nyambung diajak ngobrol soal politik, tau nama dan jabatan tiga menteri Kabinet Kerja Jokowi aja udah syukur banget. Sebenarnya, ada apa sih dengan teenage and politics?

 

 

THE TRUTH

Emang bener kalo politik identik dan erat kaitannya sama hukum dan masalah-masalah pelik yang terjadi di negara ini, yang bikin politik terkesan berat dan sulit dipahami. Apalagi banyaknya kasus dan update informasi soal politik yang isinya lebih banyak negatif dibandingkan positifnya, bikin millennial teenager males buat follow-up berita-berita yang keliatannya perlu fokus lebih. Aktivitas dan kesibukan remaja usia 16-20 yang lagi tinggi-tingginya bikin politik jadi hal nomor ke sekian, bahkan nggak masuk hitungan. Banyaknya nama partai, pejabat, belum lagi tingkatan-tingkatan jabatan dan wilayah jadi alasan lain kenapa teenager nggak suka sama politik. Belum hafal nama-nama menteri, besoknya udah reshuffle. Belum hafal nama pejabat, besoknya udah diciduk KPK. Gimana, sih?

 

THE TRUER TRUTH

Namun, kesadaran politik di kalangan teenager Indonesia ternyata nggak serendah itu. Melihat suksesnya pilkada serentak Maret lalu yang mengikutsertakan pemilih pemula, terbukti kalo kesadaran berpolitik teenager ternyata masih ada. Apalagi ngeliat status dan upload-an millennials ini pas pilkada kemaren; ada yang beropini begini, ada yang kritik di sana, ada juga yang rajin upload foto pasangan calon kesayangannya. Entah sebenarnya tim sukses atau cuma ikut-ikutan biar nggak ketinggalan, tapi ini jelas nunjukkin kalo teenager masih peduli soal politik dalam kasus ini.

Seharusnya, teenager yang tau soal politik punya kebanggaan tersendiri. Bisa sekedar tau, ikut jawab, atau bahkan ngobrol bareng orang yang pengetahuannya lebih soal politik bisa itung-itung pencitraan, to raise their view about your knowledge, your political view, and mostly about yourself. Sekarang udah tau gini, yakin masih mau musuhan sama politik?

 

IT’S OKAY TO BE DIFFERENT

Nasionalisme adalah hak semua masyarakat, terutama dalam konteks Indonesia. Pilihan dan pandangan kita soal politik boleh beda-beda, asal jangan jadi musuhan setelahnya lho ya. Toh mereka-mereka yang udah kita pilih dan kita belain mati-matian juga nggak tau kalo kita milih dia. Hubungan kita sama temen itu lebih penting, jangan egois atau malah ngejelek-jelekin dan mandang rendah pilihan orang lain.

Pada akhirnya, knowing basic, even to details about politics really isn’t hard. Sesimpel liat headline news di TV atau portal berita, kita udah bakalan tau kok apa yang lagi heboh diomongin sama publik. Kalo bisa tahan liat feed Instagram sampe berjam-jam, masak baca atau nonton berita utama 15 menit aja nggak bisa? Hargai perbedaan, pay attention to news updates, kepedulian, toleransi, dan kesadaran tanggung jawab sebagai penerus bangsa jadi kuncinya. Kalo bukan kita yang jadi penerus bangsa, terus siapa lagi?

 

 

Written by Kezia Maharani Sutikno
Photo Source:
Twitter
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar